Editorial

Melihat Tren Teknologi 2017 dari Ajang CES

salah satu tren teknologi 2017, layar monitor tipis

Kalau bicara tentang tren teknologi 2017, mau tidak mau kita harus melihat produk-produk terbaru yang diumumkan di acara CES 2017. Namanya juga Consumer Electronic Show, jadi produk-produk yang ada di sana yang akan menjadi bagian dari gaya hidup digital kita. Karena diselenggarakan pada bulan Januari, acara tersebut menjadi tolok ukur perkembangan teknologi tiap tahunnya.

CES 2017 memberikan banyak warna. Walaupun sebagian besar menarik, ada juga sisi yang kurang bersinar. Industri fotografi, misalnya, tidak mendapat banyak kemajuan (mungkin Panasonic LUMIX GH5 yang bisa disebut benar-benar baru). Di sisi lain, CES 2017 benar-benar mendefinisi tren teknologi tahun ini.

Jadi, apa saja yang akan menjadi tren teknologi 2017? Mari kita lihat.


Baca juga: Microsoft Memperkenalkan Windows 10 Creators Update


Komputer desktop jadi keren lagi

Seperti sudah saya sebut di atas, dekade terakhir ini, orang-orang hijrah ke perangkat bergerak. Kalau bicara soal komputer, dalam hal ini laptop lah yang berbicara. Komputer desktop menjadi sebuah makhluk kuno yang ribet dengan tetek bengek kabel dan lain-lain.

Tapi tahun ini kelihatannya menjadi kebangkitan komputer desktop. Banyak produk baru bermunculan. Rata-rata menawarkan komputer All in One dengan fitur tambahan. Misalnya Dell XPS 27 / Presicion AIO dengan Dell Canvas, atau ENVY Curved AIO dan Sproud Pro by HP.

Dell Canvas untuk pekerja kreatif

Memang, iMac dari Apple-lah menjadi pionir tren ini bertahun silam. Sampai hari ini pun, iMac masih menjadi salah satu komputer desktop All in One paling cantik. Entah mengapa, kegairahan di sisi komputer Windows selama ini kurang terasa. Paling tidak sampai Microsoft mengumumkan Surface Studio.

Surface Studio membawa paradigma baru komputer desktop. Dengan menawarkan layar sentuh dan peralatan kontrol baru (Surface Dial), Microsoft menembak pasar kreatif yang selama ini dikuasai Apple. Kalau melihat industri komputer yang mengikuti jejaknya di CES 2017 ini, kelihatannya strategi itu membawa hasil. Tahun ini, komputer desktop pun jadi keren lagi.


Baca juga: Surface Studio & Surface Dial, Visi Revolusioner Microsoft


Laptop game semakin menggila

Begitu hebatnya pengaruh game, sampai industri komputer butuh kategori tersendiri. Para pemain game PC pun menjadi makhluk unik dunia teknologi. Mereka yang tidak mau tunduk pada konsol (PC MASTER RACE!!!), memiliki jalannya sendiri di dunia ini.

Laptop game Lenovo Legion Y720

Di CES 2017, hampir semua perusahaan teknologi memperkenalkan laptop game terbarunya. Dell Inspiron 15 7000 baru, ASUS ROG GX800VH dan ROG G752, atau Acer Predator 21 X yang gila. Ada pula yang memasuki gelanggang permainan dengan jajaran laptop game baru, seperti Samsung Notebook Odissey dan Lenovo Legion.

Semuanya hadir dengan penampilan yang unik, hingar bingar, dan bombastis. Semuanya juga memiliki kemampuan untuk mengantar performa game secara maksimal. Lalu, semuanya memiliki harga yang lumayan bikin dengkul lemas. Apa saya sudah bilang kalau Acer Predator 21 X itu gila?


Laptop 2-in-1 menjadi standar laptop masa kini

Oke, laptop 2-in-1 memang bukan hal baru. Sejak beberapa tahun terakhir, laptop hybrid mulai meramaikan pasar komputer jinjing. Entah dalam bentuk laptop yang bisa dilipat 360°, bisa dilepas layarnya, atau tablet yang seukuran laptop normal dengan tambahan keyboard, dan rata-rata menggunakan layar sentuh.

laptop baru HP spectre x360

Semua itu diawali oleh lini Surface Pro dari Microsoft. Ketika itu, Surface Pro hadir sebagai produk yang terlihat tanggung. Namun secara perlahan, produsen laptop mulai mengikuti jejaknya, dan masyarakat mulai menerima produk semacam itu.

Saat ini (paling tidak di CES 2017), hampir semua laptop papan atas merupakan laptop 2-in-1. Sebut saja: EliteBook dan Spectre dari HP, Lenovo X1 Yoga (X1 Carbon walaupun tidak bisa dilipat, layarnya bisa dibuat mendatar sejajar dengan keyboard), atau Dell XPS 13 baru.

Lucunya, penggunaan layar sentuh di laptop pun sudah jadi kebiasaan pemiliknya. Sebagai contoh, kami sempat tertawa waktu melihat Mas Afit menggeser-geser jari di layar Macbook saya (tentu saja tidak ada yang bergerak) karena terbiasa melakukan hal tersebut di laptopnya sendiri.


Baca juga: Hands On ASUS ROG G752VS


Layar lengkung dan super tipis mulai menunjukkan taringnya

Yang satu ini boleh dibilang menyusup di antara hingar bingar tren teknologi 2017 lainnya. Karena kita cenderung melihat perangkat yang lebih ajaib. Monitor biasanya jadi kemewahan tersendiri. Namun dominasi layar lengkung (curved screen) dan layar super tipis hadir di monitor mutakhir, baik TV atau monitor komputer.

Layar lengkung sebenarnya sudah sering kita lihat sejak lama. Namun mungkin tidak kita sadari. Di mana? Di bioskop tentu saja. Yah, layar bioskop memang hanya menerima proyeksi. Namun konsep dasarnya tetap sama. Penonton bisa melihat gambar yang lebih hidup.

Laptop Game Acer Predator 21 X tampak depan

Penggunaan layar lengkung di perangkat sehari-hari dimulai oleh TV dari Samsung dan LG di tahun 2014. Sekarang, semua berlomba menghasilkan produk dengan layar lengkung. Komputer HP ENVY Curved AIO, monitor HP OMEN X, monitor Samsung CH711 Quantum Dot Curved atau monitor Acer Predator Z301CT menggunakan layar lengkung. Bahkan laptop seperti Acer Predator 21 X pun menggunakan layar lengkung.

Selain itu, ukuran layar super tipis — baik dari ketebalan maupun bingkainya — juga merajalela. Yang paling jelas tentu hadir di produk laptop. Hampir semua laptop mutakhir berlomba menjadi yang paling tipis dengan layar paling optimal.

monitor super tipis LG SIGNATURE OLED W7
TV LG Signature OLED W7

Di jajaran layar super tipis, monitor LG OLED Signature W Seri 7 adalah salah satu yang layak disebut di samping monitor yang sudah disebut di atas (layar lengkung). Selain itu juga ada TV Sony Bravia XBR-A1E 4K OLED, yang selain tipis, juga tidak menggunakan speaker biasa, melainkan mengeluarkan suara lewat getaran layar (Sony menyebutnya Acoustic Surface).


Baca juga: Mengenal Resolusi Layar dan Kerapatan Piksel


Artificial Intelligence dan Smart Home

Kedua hal ini mungkin belum terlalu bergaung di Indonesia. Tapi di Amerika, hampir semua perusahaan teknologi berusaha membuat produk yang terintegrasi dengan AI sebagai asisten pribadi.

Asisten digital ini hadir di berbagai produk, mulai dari speaker anak-anak sampai mobil. Sebagai contoh, Mattel yang terkenal dengan boneka Barbie, meluncurkan speaker Aristotle. Speaker ini dibuat atas kerjasamanya dengan Microsoft melalui anak perusahaan Mattel, nabi.

speaker aristotle dari Mattel
Speaker Aristotle dari nabi (Mattel)

Sedangkan Alexa, asisten digital dari Amazon, memimpin persaingan dengan hadir di berbagai peralatan smart home di berbagai merk. Mulai dari Fire TV dari Amazon, sampai kulkas dari LG.

Selain perangkat rumah tangga, berbagai manufaktur mobil juga berlomba mengumumkan kerja samanya dengan perusahaan teknologi untuk menerapkan digital asisten tersebut di kendaraan mereka. Nissan dan BMW mengumumkan kerja samanya dengan Microsoft untuk mengintegrasikan Cortana. Ford mengumumkan kerja samanya dengan Amazon untuk mengintegrasikan Alexa. Lalu Google juga akan mengintegrasikan Google Assistant di sistem digital kendaraan yang berbasis Android (Daimler dan Hyundai disebut sebagai beberapa yang akan menggunakannya).


Baca juga: Amazon Membuat Supermarket Tanpa Kasir


Itulah tren teknologi 2017 yang terlihat dari acara CES tahun ini. Tentu saja, tidak semua akan terbukti menjadi faktor kepopuleran perangkat digital. Karena toh perilaku konsumen di tiap wilayah berbeda.

Respon positif masyarakat inilah yang menentukan apakah sebuah tren memang menjadi kesuksesan. Jadi, kita lihat saja nanti apakah tren teknologi 2017 dari acara CES ini akan benar-benar hadir di tengah kita atau tidak.

Post Comment