Inilah 5 Alasan Kegagalan Artifact di Indonesia

Artifact merupakan salah satu game dengan genre TCG (Trade Card Game) besutan Valve. Diharapkan Artifact dapat menjadi TCG online yang sangat kompetitif.

Namun harapan tersebut justru kandas karena banyak orang menganggap game ini membosankan. Seperti yang diketahui, perkembangan Artifact setelah dirilis sangat pasif.

Memang saat pertama dirilis, ada banyak gamer yang mulai mencoba memainkan Artifact. Namun hal tersebut tidak berlangsung lama, sebab player kemudian menghilang satu per satu.

Tidak hanya itu saja, masih ada beberapa hal yang menyebabkan Artifact gagal. Dan berikut ini alasan Artifact gagal terutama di Indonesia:

Sumber Gambar : Games Industry

Proges yang Sangat Lambat

Artifact adalah game berbayar, walaupun sudah berbayar namun game ini tergolong sangat pelit. Sebab progres dari Artifact sangat lambat. Inilah yang membuat penggemar game ini merasa dibohongi.

Untuk game lain, dalam waktu seminggu saja pemain sudah bisa menggunakan banyak kartu. Sedangkan di Artifact, pemain membutuhkan waktu berminggu-minggu untuk mendapatkan kartu guna memenangkan pertandingan.

Selain itu, Artifact juga tidak mempunyai rangked ladder. Dan sistem level di Artifact memang memberi pemain bonus card pack, avatars, serta even ticket. Namun semua bonus tersebut sangat sulit didapatkan.

Sistem Kompetitif Sangat Buruk

TCG adalah game yang kompetitif. Walaupun game ini mempunyai fitur turnamen kecil yang bisa dimainkan bersama pemain lain, namun hal ini sebenarnya tidak diharapkan oleh pemain.

Pemain hanya ingin Artifact menjadi game kartu yang mempunyai kompetisi resmi, dengan hadiah yang menggiurkan.

Kurangnya kompetisi dalam game ini membuat player sangat kecewa. Sebab tidak sedikit pemain rela mengeluarkan banyak uang demi bisa menjadi yang terbaik.

Tidak hanya itu, sistem rank dalam game ini sangat membingungkan. Artifact selama ini sering muncul dalam turnamen Dota 2. Oleh karena itu, banyak player berharap Artifact bisa seru seperti Dota 2.

Tidak Ada Uang dalam Game

Layaknya game TCG lainnya, dimana mereka menyediakan currency in game yang dapat digunakan untuk membeli beberapa kartu.

Walaupun kartu yang dibeli di currency in game tidak terlalu langka, namun kartu tersebut dapat melengkapi kebutuhan pemain sesuai deck.

Selain drop card, seharusnya pihak developer menyediakan currency in game. Hal ini tentunya bisa membantu pemain untuk melengkapi deck dengan mudah.

[irp posts=”65474″ name=”Revolve8: Game Strategi PvP Baru Dari SEGA”]

Review Bomb

Dan inilah yang menjadi salah satu faktor besar kegagalan Artifact. Rating Artifact di Steam memang sangat rendah. Walau terlihat bagus, namun semakin lama muncul banyak review buruk tentang Artifact.

Dan saat melihat setiap pendapat buruk di kolom review, akan membuat banyak orang malas dan ragu untuk memainkan game ini.

Ditambah lagi, Artifact adalah game berbayar. Inilah yang membuat banyak orang malas mencoba game ini. Selain itu, orang-orang juga khawatir jika Artifact tidak dapat di-refund.

Biaya

Penghalang terbesar bagi sebuah game adalah masalah biaya. Terutama jika yang kita bahas saat ini adalah game berskala besar.

Perlu dipahami bahwa keadaan ekonomi setiap daerah berbeda-beda. Sedangkan Artifact mempunyai sistem Trade yang menggunakan Steam Wallet.

Selain itu, harga card yang langka sangat mahal. Inilah yang menghilangkan daya tarik Artifact bagi banyak orang. Bahkan untuk mencoba game ini saja sudah terasa malas.

Jangan lupa juga bahwa Artifact bukanlah game gratis. Untuk mendapatkan game satu ini, kalian harus mengeluarkan uang sebesar Rp. 300.000, dan kalian juga harus membayar lagi untuk mendapat koleksi card dari Artifact.

More Stories
Bagaimana Cara Downgrade Windows Phone 8.1 ke Windows Phone 8.0
%d blogger menyukai ini: