4 Inovasi Produk Berbasis Android Tergila dan Akhirnya Gagal Total

Indri Penulis

Wah, ternyata ada banyak inovasi produk berbasis Android tergila tapi akhirnya gagal total lho. Kira-kira apa saja tuh?

Entah sadar atau nggak, sebenarnya teknologi yang kita nikmati saat ini adalah produk dari inovasi yang telah dikembangkan selama bertahun-tahun lho.

Dari ribuan ide yang pernah tercipta, bisa dibilang hanya beberapa ide saja yang bisa bertahan melewati ujian waktu. Pasalnya mayoritas dari mereka justru berakhir di tempat sampah, entah karena kelangkaan sumber daya, keahlian yang nggak memadai, ketidaktahuan akan kebutuhan konsumen, atau bisa juga gara-gara manajemen yang buruk.

Apapun alasannya, ide-ide yang gagal itu justru dapat memberikan pelajaran yang berharga dan memungkinkan teknologi menciptakan produk yang lebih baik, lebih cepat, dan tentunya lebih ramah pengguna.

Tapi bicara soal ide-ide gagal, ternyata selama ini ada banyak lho produk-produk berbasis Android yang ‘gagalnya nggak ketulungan.’ Niatnya sih ingin menantang batas dan menjadi trendsetter, tapi justru inovasinya justru aneh, nggak berguna dan berakhir di tempat sampah.

Nah biar kamu nggak penasaran, saya akan mengajak kamu bernostalgia alias mengenang berbagai inovasi produk berbasis Android tergila tapi akhirnya gagal total. Yuk langsung saja!

Wraparound Display

Salah satu desain smartphone paling aneh sepanjang masa adalah Xiaomi Mi Mix Alpha. Ponsel ini diumumkan sebagai ponsel konsep di tahun 2019, di mana waktu itu mayoritas OEM masih fokus memproduksi ponsel dengan layar melengkung.

Kalau mau dibilang unik, wraparound display alias tampilan sampul di Mi Mix Alpha ya memang unik. Pasalnya layar ponsel ini nggak cuma terbatas di bagian depan, melainkan layarnya tembus sampai ke bagian belakang ponsel. Hasilnya, kamu bakal mendapat ponsel dengan layar besar di setiap sisinya.

Walau terlihat futuristik, tapi tampilan seperti ini jelas nggak praktis. Layar bagian belakang nggak ada gunanya karena kamu hanya akan melihat satu sisi ponsel ‘pada satu waktu.’ Belum lagi kalau kamu menjatuhkan ponsel, mungkin seluruh layar akan langsung retak karena kacanya yang fleksibel + biaya perbaikannya jelas bakal sangat mahal. Selain itu, lebih banyak layar berarti akan membutuhkan konsumsi baterai yang besar dong.

Sampai saat ini ponsel ini belum rilis dan belum terbukti khasiatnya.

Desain Modular

Ide di balik telepon modular mungkin memang jenius, katakanlah seperti Project Ara dari Google. Daripada beli ponsel baru, telepon modular memungkinkan kamu menukar komponen ponsel yang rusak dengan yang baru. Secara teori, kamu bisa membuat ponsel impian dengan cara ini, dan tentunya dengan cara yang lebih ramah lingkungan karena hanya menghasilkan sedikit limbah elektronik.

Tapi alasan kenapa ide revolusioner ini gagal adalah karena nggak ada permintaan untuk itu. Mayoritas pemilik smartphone bukanlah ahli teknologi. Mereka cuma ingin sesuatu yang bisa bekerja dengan handal tanpa perlu repot memilih modul sendiri.

Motorized Camera

Kamera selfie dalam punch-hole adalah standar ponsel masa kini. Tapi beberapa tahun yang lalu, perusahaan teknologi datang dengan berbagai ide gila untuk menghilangkan takik di layar. Perusahaan seperti Samsung, Vivo, OPPO dan ASUS pernah meluncurkan ponsel dengan motorized camera berwujud kamera selfie pop-up atau kamera flip.

Walau awalnya terlihat keren dan canggih, lama-kelamaan inovasi ini cepat ditinggalkan dan sampai sekarang nggak pernah ada yang memakainya lagi. Alasannya karena teknologi ini boros ruang. Modul motorized camera bisa digunakan untuk hal-hal lain seperti memasang baterai berukuran besar, menambah lebih banyak sensor, dll.

Curved Screen / Layar Melengkung

Sala satu desain ponsel teraneh yang pernah dikenalkan adalah layar melengkung (curved screen). Kamu mungkin masih ingat dengan LG G Flex dan Samsung Galaxy Round.

LG G Flex memungkinkan layar bisa melengkung secara horizontal untuk menciptakan pengalaman menonton yang lebih bagus. Sedangkan Samsung Galaxy Round layarnya bisa melengkung vertikal untuk membuat ponsel terasa lebih kokoh saat dipegang.

Ada beberapa hal yang membuat ide ini gagal total seperti biaya pembuatannya yang mahal, sulit diperbaiki, dan lebih mudah rusak apabila jatuh. Selain itu karena ukurannya, mereka jadi boros ruang dan otomatis bakal menambah biaya pengiriman (lebih sedikit unit yang bisa dimasukkan ke dalam box).

    %d blogger menyukai ini: