COMPUTEX 2022: Teknologi ARM Siap Mendefinisikan Ulang Masa Depan Komputasi

Anom Penulis

COMPUTEX 2022, salah satu expo komputer terbesar di dunia, berlangsung secara fisik dan virtual pada tanggal 24 Mei sampai 27 Mei, bersama COMPUTEX DigitalGo Online Exhibition selama 2 Minggu yang diselenggarakan oleh TAITRA.

COMPUTEX 2022 Global Press Conference menjadi kegiatan pembuka yang menghadirkan pimpinan berbagai perusahaan teknologi di Taipei Nanggang Exhibition Center pada tanggal 23 Mei. CK Tseng, Presiden ARM Taiwan, membicarakan bagaimana industri ICT — terutama teknologi ARM — mampu mengubah tantangan pandemi menjadi kesempatan besar untuk menciptakan masa depan yang lebih baik dengan teknologi digital.

Efek Pandemi Global Pada Industri Teknologi

Pandemi COVID-19 telah mengubah cara hidup, cara kerja, dan cara bermain orang banyak. CK Tseng memberikan opininya soal efek pandemi pada industri teknologi.

“Saat bertemu situasi seperti ini, anda akan menyesal tidak membuat ‘lights out factory’ ‘unmanned warehouse’, dan ‘smart retail’*. Kasus seperti ini membutuhkan banyak proses komputasi dan teknologi AI. ARM, sebagai platform komputasi paling progresif, perlu mencari jalan untuk melayani mitra yang sudah menggunakan solusi kami — dari sensor AI di hutan Amazon untuk melacak perilaku binatang sampai ke unit pemrosesan data yang terpasang di pusat data.” Kata Tseng.

Mengemukakan contoh masalah rantai pasokan akibat pandemi di Cina, Tseng menekankan pentingnya sistem yang cerdas dan otonom di dunia yang berbasis teknologi saat ini.

Model Bisnis ARM Mendukung Rekanan Global dan Komunitas Startup

Untuk mendukung inovasi teknologi mitranya, ARM memfokuskan diri dalam mengalihkan bisnis modelnya, dari model “a-la carte” tradisional yaitu pelanggan memesan apa yang mereka inginkan sebelum ARM memberikan teknologi properti intelektual (IP) mereka, ke bentuk baru Arm Flexible Access (AFA).

AFA, yang menyajikan model bisnis “bullet style,” memungkinkan rekan ARM mempercepat proses inovasi mereka dengan memberikan akses pada IP, peralatan, dan pelatihan secara langsung, tanpa biasa, atau berbiaya rendah. Mitra ARM bisa bereksperimen dan merancang dengan seluruh portofolio; biaya lisensi, jika ada, hanya muncul pada saat pembuatan dan hanya dihitung berdasar pada IP yang disertakan pada desain SoC final.

Tseng kemudian memperkenalkan “AFA for Startups” sebagai agian dari komitmen ARM mendukung startup silikon tahap-awal yang memiliki dana terbatas. AFA for Startups menyediakan akses tanpa biaya pada IP, peralatan, dan pelatihan, dan mendapat dukungan dari ARM beserta ekosistemnya.

Tseng juga menyorot rekanan ARM dengan mitra pihak ketiga untuk mendorong keterlibatan yang lebih baik dalam meningkatkan level layanan yang diberikan pada mitra AFA-nya. Meliputi AFA dan AFA for Startups, ARM sudah mendapat lebih dari 20 pemegang lisensi di Taiwan dan mengharapkan lebih banyak permintaan dari komunitas.

Sebagai tambahan pada model bisnis baru ini, ARM, berkolaborasi dengan ITRI dan Industrial Development Bureau (IDB), menciptakan platform yang disebut IC design platform untuk melayani komunitas global startup yang sebagian besar tidak memiliki akses ke layanan desain backend yang seringkali penting.

Membuka Potensi dan Mendefinisi Ulang Masa Depan Komputasi

“Ada banyak peluang terbuka — namun kita, bersama-sama, bertanggung jawab bekerja secara kohesif untuk meningkatkan digitalisasi, dan membuka potensi manusia dengan ketahanan digital yang lebih kuat,” Tseng menyimpulkan.

Bekerja bersama mitranya untuk mendefinisikan ulang masa depan komputasi, ARM akan terus memberikan teknologi yang akan menjawab dan secara efisien menangani tuntutan akan AI, sistem otonom, cloud computing, metaverse, dan lebih banyak lagi.


*Ketiganya merujuk kebutuhan sumber daya manusia minimal.

    %d blogger menyukai ini: