3 Tips Jitu Menghindari Haters dari Pakarnya

sanksi-haters-di-media-sosial-924x693

Sepertinya negara kita tercinta ini sedang dihebohkan dengan pemilihan calon presiden tahun 2019 nanti.

Dengan banyaknya topik yang memabahas tentang pilpres ini, membuat akun haters dari masing-masing pendukung calon presiden semakin merajalela untuk menyebarkan berita hoax.

Menyikapi hal tersebut, seoarang pakar ahli media sosial pun mengatakan akan ada pro dan kontra dari masing-masng pendukung capres dan cawapres ini. Bahkan diprediksi akan ada haters-haters baru yang bermunculan untuk memperkeruh suasana.

Layaknya pertandingan dalam hal apapun, pastinya yang namanya kompetisi akan ada yang menang dan kalah. Sama halnya dengan pilpres 2019 nanti.

Jangan kaget jika nanti akan ada haters yang bertaburan dimana-mana. Akibat maraknya haters yang bermunculan, seorang pakar media sosial, Nukman Luthfie memberikan tipsnya bagaimana cara menyangkal haters di media sosial.

Hiraukan komentar haters

Sumber Gambar: Kumparan.com

Yang pertama dan utama adalah untuk tidak menghiraukan setiap komentar dari haters. Jika ada yang mem-bully dan menyebarkan berita hoax, tak usah pikir panjang lagi, langsung saja laporkan ke platform yang terkait seperti Facebook atau Twitter.

Semakin banyaknya tokoh publik dan tokoh ternama seperti tokoh politik yang menggunakan jejaring sosial, maka akan semakin banyak pula akun-akun haters yang akan bermunculan untuk menyebarkan berita hoax.

Semakin maraknya akun haters di berbagai platform media sosial dalam kondisi seperti ini, menjadi fenomena tersendiri di berbagai negara, khususnya Indonesia.

Kalian dapat menjadikan contoh pada saat pembukaan Asian games 2018 kemarin pada tanggal 18 Agustus, tampak presiden kita Joko Widodo yang sedang mengendari motor gede layaknya sedang memainkan adegan film aksi menuju Stadion Glora Bung Karno.

Ketika banyak orang yang memuji penampilanya, rupanya tak sedikit pula yang mencibir aksi presiden tersebut sebagai pencitraan semata.

Mereka yang menyela penampilan presiden tersebut berfikir bahwa Joko Widodo hanya membohongi masyarakat saja, karena tak mungkin seorang presiden bisa melakukan hal tersebut.

Jangan terlalu sering curhat di media sosial

Sumber Gambar: Geotimes

Tak dipungkiri jika media sosial menjadi sarang berkembangbiaknya para haters, karena secara umum banyak orang yang memanfaatkan media sosial sebagai tempat mencurahkan perasaan, baik ketika sedang senang maupun sedih.

Dan ketika seseorang sibuk curhat di media sosial, ternyata orang lain juga akan mengikuti postingan kita, atau lebih jelasnya kepo.

Jangan mudah percaya dengan berita hoax yang disebarkan

Sumber Gambar: Okezone Techno

Sebenarnya ada beberapa faktor penentu yang membuat para haters semakin menjamur di media sosial.

Faktor pertama berhubungan dengan ungkapan kebencian seseorang yang semakin cepat menyebar dengan cepat dan lebih kuat karena tidak tatap muka.

Bahkan haters tidak pernah mempunyai tempat berkumpul atau untuk  bertemu secara langsung. Jadi mereka menggunakan media sosial sebagai sarana untuk bertemu dan menyatukan kekuatan untuk membully orang.

Liciknya lagi haters sering menggunakan nama samaran agar identitasnya tidak ketahuan, hal ini semakin membuatnya lebih berani untuk menyuarakan vokal kebencian di media sosial.

Keusilan haters pun tidak berhenti di situ saja, para haters juga sering menyebarkan berita-berita hoax atau berita tidak benar untuk mempengaruhi orang.

Padahal mereka juga tidak mengetahui kebenaran dari berita hoax yang disebarkan tersebut.

Jadi bagi kalian yang sering menggunakan media sosial, jadilah pengguna media sosial yang cerdas. Jangan mudah percaya dengan berita-berita hoax yang tersebar di dunia internet.

Dan selalu berhati-hatilah dalam mengunggah postingan apapun, usahakan jangan terlalu mengumbar masalah pribadi di media sosial yaa.

Ada komentar?