Atasi Berita Hoax, Facebook Gandeng Ahli Penerbit Berita

Saat ini ada banyak sekali berita palsu atau yang sering disebut dengan hoax merajalela di Indonesia. Masalah ini memang tidak bisa dikatakan sebagai masalah sepele. Faktanya berita hoax justru bisa menimbulkan masalah yang besar dalam berbagai hal.

Penyebaran berita hoax ini nyatanya juga tengah dihadapi oleh Facebook. Walaupun memang pada awalnya, salah satu media sosial raksasa yang ada di dunia ini memang terlihat enggan untuk mengakui hal tersebut. Namun, saat ini mereka pada akhirnya tengah berusaha untuk bisa mengatasi berbagai permasalahan yang ditimbulkan oleh hoax dalam jejaring sosial tersebut.

Sumber : Natural News

Salah satu metode yang dilakukan oleh Facebook untuk bisa mengatasi permasalahan berita hoax ini adalah dengan mencari “ahli berita hoax atau ahli penerbit berita”. Langkah tersebut dirasa memang dapat menjadi salah satu cara yang jitu dalam menanggulangi maraknya berita hoax yang beredar di Facebook. Berbagai ahli penerbit berita ini nanti kemudian akan ditugaskan untuk memeriksa berbagai konten yang bermunculan di media sosial Facebook.

Sebenarnya untuk posisi ini akan langsung ditempatkan di markas besar Facebook yang berada di Menlo Park, California. Dan memang pada awalnya, Facebook sendiri telah menyebutkan bahwa mereka saat itu tengah mencari beberapa “ahli kredibilitas berita”. Namun, menurut The Guardian, lowongan pekerjaan yang dibuat oleh Facebook ini sempat mencantumkan “ketertarikan pada dunia jurnalisme” sebagai salah satu syarat. Namun, hingga saat ini salah satu syarat tersebut sudah dihapus oleh pihak Facebook.

Sebenarnya bukan baru-baru ini saja Facebook bekerja keras untuk mengatasi berita hoax yang merajalela dalam jejaring sosialnya. Bahkan sudah bertahun-tahun yang lalu Facebook sudah gencar mencoba berbagai cara untuk bisa menyelesaikan masalah tersebut. Bahkan metode tersebut sempat dimulai dengan melakukan kerja sama dengan berbagai organisasi pemeriksa fakta, hingga iklan di koran.

[irp posts=”51864″ name=”5 Fitur Baru Facebook Diumumkan Di F8 2018″]

Tapi di sisi lain Facebook sendiri memang sebelumnya juga sudah menekankan peran mereka ini nanti sebagai sebuah agregator berita. Bukannya sebagai penerbit berita lagi. Selain itu, yang tidak kalah menariknya Facebook juga sudah mulai berhenti untuk menggunakan jasa editor manusia untuk melakukan pekerjaan satu ini. Hal tersebut sudah diberlakukan sejak tahun 2016.

Dan sebagai solusi alternatif dari hal ini adalah mereka yang lebih fokus untuk menggunakan sebuah algoritma komputer yang bisa menentukan sendiri seperti apa konten berita yang memang pantas dan media mana yang kredibel dan memang pantas untuk bisa tampil pada Trending Topics. Seperti minggu yang lalu, Facebook sendiri memang sudah mulai menghapus bagian tersebut. Hal tersebut bukan tanpa alasan mengingat setelah mengeluarkan kebijakan yang sebelumnya, Facebook justru dikritik keras ikut mempromosikan berita hoax.

Selain itu, CNET juga melaporkan bahwa sebenarnya awal Facebook mulai menghadapi masalah berita hoax ini adalah saat tahun 2016. Dimana saat itu dikabarkan bahwa Inggris telah memutuskan untuk keluar dari Uni Eropa. Selain itu, masih ada juga berita hoax lain yang juga menimbulkan kontroversi besar. Misalnya saja seperti pemilihan umum presiden di Amerika Serikat waktu itu.

Bahkan dalam kasus yang lebih parah lagi adalah, berbagai tema juga kerap diusung oleh pembuat berita hoax ini untuk bisa menarik keuntungan. Memang hal tersebut sangat merugikan banyak orang. Dan bisa menjadikan rasa keraguan di masyarakat tentang berita mana yang harus mereka percaya.

Meskipun begitu, walaupun tanpa adanya Trending Topics sekalipun, tetap masih ada banyak berita hoax yang beredar dan bahkan dibagikan juga di Facebook. Namun agaknya saat ini kita tidak perlu terlalu khawatir akan hal tersebut karena bagaimanapun juga, Facebook selalu mencari cara untuk bisa memastikan pengguna jejaring sosial ini tahu mana berita yang berasal dari media kredibel, dan mana berita yang berasal dari sumber tidak terpercaya.