Facebook dan Instagram Sepakat Akan Blokir Pengguna Dibawah Umur

Indri Penulis

Era digital saat ini, mengakses apa saja menjadi mudah. Hal tersebut seolah-olah membuat tidak ada lagi batasan antara manusia dan teknologi.

Contoh yang paling dominan adalah media sosial. Bila dulu yang mempunyai akun media sosial hanya beberapa orang saja. Namun kini semua orang sudah punya akun media sosial. Tidak terkecuali bagi anak-anak di bawah umur. Dapat kita lihat, kini banyak anak SD yang mempunyai akun Facebook maupun Instagram.

Yang menjadi masalah adalah, anak-anak terkadang tidak bijak dalam menggunakan media sosial. Tidak jarang media sosial digunakan untuk mem-posting kalimat-kalimat yang tidak sopan, maupun foto yang kurang senonoh.

Hal tersebut kemudian menjadi perhatian banyak pihak. Khususnya dari pihak Facebook dan Instagram, selaku media sosial yang mempunyai banyak pengguna di bawah umur.

Sumber Gambar : Optiweb

Kini Facebook dan Instagram semakin proaktif dalam membatasi usia pengguna. Terutama anak dengan usia di bawah 13 tahun. Secara teknis, batas pengguna Facebook memang 13 tahun keatas.

Walaupun aturan tersebut sudah ada dari dulu, namun hingga kini aturan tersebut belum ditegakkan sepenuhnya. Oleh karena itu, kini banyak anak di bawah umur yang dapat mendaftar Facebook maupun Instagram.

Sementara itu dalam kebijakan operasional yang terbaru, Facebook akan bertindak tegas terhadap pengguna di bawah umur. Hal tersebut dilakukan dengan bantuan reviewer terlatih.

Apabila akun yang diblokir tersebut ternyata berusia 13 tahun ke atas, maka mereka dapat membuka akunnya kembali. Dengan syarat, harus menunjukkan kartu identitas resmi sebagai bukti jika mereka telah layak mempunyai akun Facebook atau Instagram.

Perubahan signifikan ini dilakukan setelah beberapa waktu lalu, beredar dokumenter dari kantor berita Inggris Channel 4 yang berjudul, “Inside Facebook: Secret of The Social Network.”

[irp posts=”49807″ name=”Cara Menghapus Akun Facebook (Sementara dan Permanen)”]

Dalam dokumenter tersebut, bercerita mengenai salah satu jurnalis Channel 4 yang menyamar dan mengikuti training jadi pengulas Facebook.

Pada dokumenter tersebut, yang menjadi sorotan adalah, para pengulas ada yang ditugaskan untuk menghapus konten negatif atau yang bertentangan dengan aturan Facebook. Namun ternyata tidak semua pengulas menjalankan perintah tersebut.

Dalam suatu cuplikan, seorang moderator menjelaskan bahwa pengulas tidak perlu menghapus meme yang bernada rasisme atau kekerasan. Namun yang perlu dihapus adalah, bila  akun tersebut bertentangan dengan kebijakan Facebook saja.

Para pengulas yang dilatih juga diinstruksikan untuk mengabaikan pengguna yang berusia di bawah 13 tahun. Kecuali jika akun tersebut mengakui jika mereka memang berusia 13 tahun ke bawah.

Kami harus mempunyai bukti pengakuan, bahwa orang yang punya akun tersebut dibawah umur. Jika tidak, maka kami hanya pura-pura buta atau tidak tahu bila pengguna tersebut di bawah umur,” ucap salah satu pengulas.

Seperti yang dilansir dari Tech Crunch, Jumat (20/7/2018), juru bicara Facebook berkata jika akan memperbaharui pedoman dalam pelatihan para pengulas.

Karena pedoman tersebut (dokumenter). Kami akan berusaha lebih keras untuk memperbaharui pedoman bagi para pengulas. Tentunya untuk menahan akun yang mempunyai indikasi kuat, bahwa akun tersebut di bawah umur,” jelas Facebook.

Juru bicara Facebook juga menegaskan bahwa, pelatihan khusus untuk pengulas tersebut mempunyai tujuan untuk menegakkan kebijakan usia bagi pengguna Facebook dan Instagram.

Dia juga mengatakan jika kebijakan batas usia untuk dapat membuat akun Facebook maupun Instagram kini masih tetap sama. Hanya saja, perubahan ada pada panduan operasional yang diterima oleh para pengulas.

Bagaimana menurut kalian? Apakah kebijakan Facebook dan Instagram tersebut patut dilakukan? Atau justru anak dibawah umur tidak apa bila diberi kebebasan dalam menggunakan media sosial?

    %d blogger menyukai ini: