Zenbook 14 M3400 banner
Zenbook 14 M3400 banner
Zenbook 14 M3400 banner

Facebook Tuduh Film “The Social Dilemma” Salah dan Hanya Cari Sensasi

Anom Penulis

Pada tanggal 9 September 2020, Netflix merilis film “The Social Dilemma” yang kemudian mendapat kritik pedas dari Facebook. Secara khusus Facebook mengeluarkan pernyataan yang menyatakan film tersebut salah dan mencari sensasi.

Film “The Social Dilemma”

“The Social Dilemma” adalah sebuah film dokudrama yang membahas kepopuleran media sosial beserta dampak negatifnya pada masyarakat. Film ini menyorot bagaimana layanan media sosial mengeksploitasi penggunanya.

popculture.id

Eksploitasi tersebut meliputi membuat pengguna ketagihan, pemakaiannya dalam menggoreng isu politik, juga untuk menyebar hoax dan konspirasi teori. Termasuk pula algoritma pelacakan yang melanggar privasi dan imbasnya pada kesehatan mental.

adegan film the social dilemma

Film yang tayang pertama kali di Sundance Film Festival 2020 ini menampilkan wawancara dengan berbagai sumber dari dunia teknologi informasi. Misalnya mantan pegawai Google, salah satu pencipta tombol ‘Like’ di Facebook, mantan pimpinan Pinterest, dan beberapa profesor dari berbagai universitas.

Film “The Social Dilemma” sendiri mendapat tanggapan bagus dari penonton dan kritikus film. Seperti di Rotten Tomatoes, film ini mendapat rating 86% dari 485 review dan di Metacritic mendapat skor 78 dari 100.

Facebook Tidak Terima

Namun ternyata Facebook tidak suka dengan pembahasan film “The Social Dilemma” tersebut. “The Social Network” ini merilis pernyataan yang memprotes isi film tersebut. Bahkan menyebut kalau film ini mengubur dampak sebenarnya di dalam sensasi semata.

Penguasa media sosial ini menuduh film “The Social Dilemma” memberikan pandangan yang salah. Termasuk tidak mewawancarai orang-orang yang saat ini bekerja di perusahaan bersangkutan atau para ahli yang punya pendapat berbeda.

Facebook menyebutkan 7 poin yang salah pada film tersebut, yaitu:

  1. Facebook membuat layanannya untuk memberikan nilai lebih, bukan untuk membuat ketagihan.
  2. Pengguna Facebook tidak menjadi produk, dan mereka mendapat perolehan iklan agar pengguna bisa tetap memakai secara gratis.
  3. Algoritma Facebook tidak “gila-gilaan” dan membuat layanan ini tetap relevan dan berguna.
  4. Facebook membuat perbaikan untuk melindungi provasi pengguna.
  5. Facebook mengambil tindakan untuk mengurangi konten yang bias, termasuk judul clickbait dan informasi yang salah.
  6. Facebook mengakui kesalahan pada pemilu Amerika tahun 2016, dan sudah berusaha lebih meningkatkan integritas pemilu.
  7. Facebook melawan berita palsu, informasi salah, dan konten berbahaya melalui pengecekan fakta.

Yah, suka tidak suka, Facebook memang sudah mendapat citra yang kurang begitu baik dari berbagai kejadian. Harus diakui pula (termasuk oleh kita, si pengguna) bahwa media sosial memang menyedot banyak perhatian.

Nah, bagaimana menurutmu? Apakah kamu lebih setuju pada film “The Social Dilemma”, lebih percaya pada “The Social Network”, atau tidak peduli sama sekali? ?

    %d blogger menyukai ini: