Inilah 3 Game yang Tidak Disukai Developer Sendiri

Pembuatan game memang menjadi proses yang sangat panjang, melelahkan dan belum tentu menjamin kesuksesan komersil.

Oleh sebab itu, developer tidak pernah ragu untuk menaruh nama mereka di dalam credits game, atau bahkan dalam judul game itu sendiri.

Hal ini dilakukan karena mereka merasa bangga, sebab sudah berhasil menyelesaikan proyek yang mereka kerjakan selama bertahun-tahun.

Tapi bila mengingat sifat alami manusia yang tidak merasa puas, bahkan dengan hasil karya mereka sendiri, maka akan muncul rasa benci dari sang developer terhadap game yang mereka ciptakan.

Selain itu, ada pula beberapa developer yang merasa kecewa dengan game mereka, karena game tersebut tidak berjalan sesuai dengan rencana.

Dan berikut ini beberapa game yang tidak disukai oleh developer mereka sendiri:

Peter Molyneux โ€“ Fable II

Sumber Gambar : YouTube

Peter Molyneux sudah menciptakan banyak game klasik selama hidup. Dia adalah kreator dibalik kesuksesan Black and White, Dungeon Keeper dan Populaous.

Dapat dikatakan jika Peter menjadi bapak dari genre โ€˜god game.โ€™ Tapi ada masa dimana dia mencoba beralih ke genre lain yaitu RPG, dengan franchise berjudul Fable.

Fable kembali menjadi game klasik yang diciptakan oleh Peter serta studionya. Bahkan sekuel Fable dinilai sebagai salah satu game terbaik yang pernah dia buat.

Tapi dibalik kesuksesan game Fable, rupanya Peter tidak merasa puas dengan hasil akhir game tersebut.

Melalui suatu wawancara bersama Eurogamer pada tahun 2000, Peter justru mengkritik panas game buatannya tersebut. Peter mengatakan Fable adalah karya yang sangat buruk, sebab game ini dirilis secara terburu-buru dan punya desain buruk.

Melalui wawancara tersebut, Peter juga menjelaskan betapa buruknya cerita yang dia buat dalam game ini. Peter mengatakan cerita dalam game Fable seperti โ€˜sampahโ€™ baginya.

Phil Fish โ€“ FEZ

Sumber Gambar : Polygon

Sebenarnya sulit untuk menjelaskan sosok Phil Fish. FEZ menjadi game pertama dan terakhir yang dibuat oleh Phil Fish.

FEZ merupakan game indie yang unik, serta penuh dengan respon positif dari banyak gamer. Sang kreator dan developer utama bahkan menjadi sosok paling toxic yang pernah ada dalam industri game.

Phil sendiri sosok yang selalu menyombongkan kesuksesan yang diraih game tersebut. Kemudian akan memberikan pesan kebencian kepada semua orang, yang pernah mengkritik dirinya sebagai developer.

Puncak dari keegoisan Phil yaitu saat dia beradu argumen dengan para jurnalis dan gamer di Twitter. Karena tidak tahan, dia kemudian mengkritik industri game sebagai hal terburuk yang pernah ada.

Tidak cukup sampai disitu, Phil juga memutuskan untuk membatalkan sekuel dari game FEZ secara mendadak. Hal ini tentu sangat disayangkan banyak orang, sebab game FEZ waktu itu berhasil menarik perhatian banyak gamer.

[irp posts=”59246″ name=”Inilah 5 Developer Game dengan Karya Paling โ€˜Nyelenehโ€™ Sepanjang Masa”]

John Romero โ€“ Daikatana

Sumber Gambar : Steam

Pada tahun 90-an, sosok John Romero memang menjadi nama penting dalam industri gaming khususnya PC.

John merupakan desainer dibalik banyaknya FPS yang dirilis tahun 90-an. Namun peran besarnya ada sebagai co-creator sekaligus desainer dari Doom.

Doom sendiri sampai saat ini masih dipandang sebagai game yang revolusioner bertema FPS. Setelah bekerja dengan FPS cukup lama, John memutuskan untuk keluar.

Setelah itu, dia mengumumkan sedang mengerjakan game di studio barunya. Berita tersebut lantas membuat fans FPS dan Doom penasaran akan jadi seperti apa game barunya.

Proyek tersebut akhirnya diberi judul Daikatana. Waktu itu sempat ada iklan yang bertuliskan, โ€˜John Romero is about you his bitch.โ€™ Setelah itu Daikatana dengan cepat mendapat hype dan antisipasi tinggi.

Sayangnya proyek tersebut tidak berjalan baik. Sebab game ini menggunakan engine lama yaitu ID tech 2.0, disaat developer lain sudah beralih ke versi baru.

Hal ini menyebabkan pengembangan game terpaksa ditunda beberapa kali, untuk menyesuaikan kualitas Daikatana, dengan kualitas game lainnya.

Setelah dirilis, rupanya game ini penuh kontroversi karena tidak sesuai ekspektasi gamer. Bahkan reputasi John Romero seketika turun setelah perilisan game ini.

Walaupun sampai saat ini sosok John Romero masih dianggap sebagai legenda, namun gamer tidak pernah melupakan kegagalan besar John Romero karena game Daikatana.

Bertahun-tahun setelah game tersebut rilis, John akhirnya meminta maaf atas kegagalan game tersebut. John bahkan mengaku menyesal karena sudah membuat game gagal seperti Daikatana.