Notebook Rocketbook Everlast Menggabungkan Analog dan Digital

buku catatan everlast dari rocketbook
Anom Penulis

Notebook Rocketbook Everlast adalah buku catatan pintar yang menggabungkan catatan biasa (analog) dengan pena tinta dan teknologi digital masa kini. Proyek dari Rocketbook ini diluncurkan melalui Kickstarter maupun Indiegogo, dan berhasil menangguk sukses besar.

Memang menulis di layar digital dengan pena stylus sudah bukan barang baru. Baik di phablet seperti Samsung Galaxy Note, di tablet seperti Surface Pro atau iPad Pro, atau bahkan di layar komputer seperti Microsoft Studio. Walau begitu, kelihatannya kita tetap tidak bisa lepas dari buku catatan biasa. Seperti juga membaca buku (bukan ebook), perasaan nyata bersentuhan dengan kertas masih melekat kuat. Di samping itu, pena stylus yang canggih memang masih cukup mahal. Tidak semua orang dengan mudah menikmatinya.


Baca juga: Surface Studio & Surface Dial, Visi Revolusioner Microsoft


Terobosan Notebook Rocketbook Everlast

Lalu masuklah tim Rocketbook dengan solusi mereka. Everlast tetap mempertahankan bentuk buku catatan tradisional. Dalam hal ini dengan kertas dan pena tinta. Namun, kemudian bisa dibuat menjadi format digital dengan mudah.

pena frixion ink

Kalau tadi saya menyebut kertas, mungkin tidak tepat. Lembar notebook Rocketbook Everlast dibuat dari bahan polyester sintetis yang unik. Lembar ini bisa menyerap tinta dengan baik, dan tulisan tangan kita tidak akan terhapus walau kita gesek dengan tangan. Tinta baru akan terhapus kalau kita menggeseknya dengan kain lembab.

Rocketbook menyebutkan bahwa buku catatan ini akan bekerja optimal dengan pena Pilot FriXion. Pena ini merupakan pena ballpoint gel biasa yang bisa didapatkan di berbagai toko. Terus terang, saya belum tahu apakah ada atau tidak di Indonesia (belum cek ke toko buku).

Kedua hal ini, baik lembar dan pena, membuat notebook Rocketbook Everlast bisa digunakan berulang kali. Lebih hemat dari buku catatan biasa, tapi tetap punya rasa yang sama.

Scan Dokumen ala Rocketbook Everlast

Jujur, tadinya saya berharap bahwa buku catatan ini cukup cerdas untuk langsung menangkap tulisan atau gambar di lembarnya dan mengirimnya ke perangkat digital. Mungkin seperti buku harian Tom Riddle (Voldemort) di Harry Potter and The Chamber of Secret. Sayangnya belum seperti itu.

Untuk memindah tulisan dan gambar ke bentuk digital, kita tetap menggunakan proses scan dokumen dengan aplikasi notebook Rocketbook (Android / iOS).

proses scan dokumen akurat everlast


Baca juga: Melihat Tren Teknologi 2017 dari Ajang CES


Sampai di sini mungkin kamu bertanya, “Lalu apa bedanya dengan menulis di kertas biasa dan scan dokumen menggunakan aplikasi Office Lens?”. Pertanyaan itu juga hadir di benak saya. Pertanyaan wajar, mengingat aplikasi seperti Office Lens sudah cukup cerdas mengkoreksi posisi dan cahaya ketika memindai tulisan dan gambar.

Rocketbook menjelaskan bahwa lembar Everlast memiliki bingkai hitam yang memudahkan aplikasi membaca garis batas “kertas”. Lalu, di halaman terdapat QR code yang akan menandai nomer halaman untuk setiap pindaian. Terakhir, di bagian bawah halaman terdapat ikon yang bisa dicoret untuk menandai layanan cloud (Dropbox, Google Drive, iCloud, Evernote, dll) tempat halaman akan disimpan. Dengan demikian proses scan dokumen dan penyimpanan di cloud bisa dilakukan dengan mudah dalam satu kali pindaian saja.

teknologi notebook rocketbook everlast


Baca juga: Perbandingan Layanan Cloud Storage


Apakah akan berguna?

Menurut saya, produk ini memang cukup spesifik. Untuk mereka yang tetap ingin rasa menulis cara tradisional tapi bisa dengan mudah memindah ke perangkat digital, ya, Everlast bisa jadi pilihan tepat. Mungkin beberapa lainnya tetap memilih menggunakan kertas biasa dan scan dokumen dengan aplikasi lain yang ada di bursa. Beberapa orang mungkin juga lebih suka langsung menggunakan perangkat digital seperti Wacom atau tablet. Singkat kata, tergantung kesukaan kita.

Sekedar membandingkan, Moleskine juga memiliki produk notebook yang mirip, yaitu Moleskine Paper Tablet. Produk ini sudah dipasarkan secara global, dan bisa dibeli dengan harga sekitar Rp600.000. Yah, untuk perangkat digital seperti phablet atau tablet dan Wacom harganya cukup bervariasi. Perangkat digital lebih bersifat investasi di awal (lebih mahal, tapi keuntungan secara digital lebih besar).

Jadi ya kembali pada pertimbangan pribadi masing-masing orang. Toh, seperti yang sudah saya sebut di atas, notebook Rocketbook Everlast ini sudah menangguk sukses di Kickstarter dan Indiegogo dengan pemesanan melebihi target sampai 7012% (sejak 15 Januari 2017). Pemesanan paling populer (2459 dukungan) adalah untuk satu buah buku Rocketbook Everlast dan satu buah pena FriXion dari Pilot seharga $34 (termasuk pengiriman). Pengirimannya sendiri dijadwalkan akan dilakukan pada bulan Mei 2017.

Butuh tidak butuh, saya tetap berpendapat bahwa notebook pintar Rocketbook Everlast ini produk yang keren.

LIHAT DI INDIEGOGO

    %d blogger menyukai ini: