5 Faktor Kegagalan Smartphone LG yang Membuatnya ‘Bangkrut’

LG resmi keluar dari bisnis smartphone dunia. Rupanya inilah yang menjadi faktor kegagalan smartphone LG, hingga membuatnya menutup bisnisnya.

Pasar smartphone adalah arena di mana beberapa perusahaan terbesar di dunia berjuang mati-matian untuk menarik perhatian konsumen, dan tentu saja, uang.

Secara alami, perhatian orang-orang mungkin akan fokus ke merek smartphone papan atas sekaligus pemenang dari pertempuran epic ini.

Namun kali ini, kita akan lihat beberapa korban dan perjuangan tanpa henti untuk menawarkan smartphone terbaiknya. Ini bukan perusahaan kecil yang muncul dengan konsep keren. Melainkan raksasa teknologi yang tampaknya telah tersesat, yakni LG.

April ini, LG akhir resmi menutup bisnis smartphone-nya, dan memutuskan untuk keluar dari bisnis smartphone dunia.

Nah, yang jadi pertanyaan, kira-kira apa sih faktor yang menyebabkan kegagalan pada smartphone LG?

Faktor Kegagalan Smartphone LG

Masalah Bootloop Ponsel

LG selalu menjadi salah satu merek smartphone papan atas. Flashback ke tahun 2014, kala itu, LG Mobile menikmati hasil penjualan smartphone yang mencetak rekor.

Sumber Gambar : Phone Arena

Setahun setelahnya, atau tepatnya tahun 2015, LG mendapat pukulan serius untuk pertama kalinya. Ketika itu, G4, memiliki masalah bootloop. Masalah ini memaksa pengguna untuk mencari pusat layanan, sehingga mereka dapat menjalankan kembali ponsel atau menerima penggantinya.

Sayangnya, penerus ponsel LG G4 juga tak membawa perubahan ke arah yang lebih baik. Mereka justru datang dengan masalah yang sama.

Contohnya ponsel LG G6 yang tidak sukses besar. Apalagi setelah ponsel flagship ini keluar dengan chipset Snapdragon 821. Padahal dulu pesaingnya sudah memakai Snapdragon 835.

Tak perlu diperpanjang lagi, kelemahan seperti itu jelas sulit diabaikan untuk ponsel flagship. Hal tersebut akhirnya membuat orang-orang tak pernah mempertimbangkan ponsel LG lagi.

Buruknya Nama ‘ThinQ’

Iterasi terbaru dari seri G, LG G7 ThinQ, adalah ponsel yang secara keseluruhan bagus. Bahkan, LG memakai embel-embel ‘ThinQ’ ke nama ponsel flagship terbarunya.

LG ThinQ dimaksudkan untuk memberi sinyal, tentang bagaimana ponsel pengguna dapat kompatibel dengan perangkat elektronik LG lainnya seperti lemari dan mesin cuci berkat teknologi AI LG.

Sayang bukannya canggih, justru ide ini menambah kebingungan pengguna. Selain itu, tampilannya yang kurang optimal justru menyebabkan kinerja baterai ada di bawah rata-rata (tambah satu lagi deh, alasan orang-orang malas melirik ponsel LG).

Eksperimen LG yang Gagal

LG G5

LG mencoba mengguncang segalanya lewat seri G5. Melalui seri ini, perusahaan memutuskan untuk bertaruh pada modularitas.

Sumber Gambar : LG

LG G5 memungkinkan berbagai lampiran dapat dihubungkan ke telepon. Tujuannya adalah agar bisa memberikan fungsionalitas tambahan.

Walau kelihatannya keren, tapi implementasi LG atas idenya justru terlihat buruk. Justru ide ini menjadikannya kelemahan telepon, bukannya kekuatan.

Modul yang dapat ditukar memiliki kekurangan, yakni keterbatasan dalam jumlah. Selain itu, fungsionalitas fitur ini juga tidak populer di kalangan konsumen.

Kegagalan LG V10 dan V20

Eksperimen kedua LG yang gagal bisa kamu lihat pada ponsel LG V10 dan V20. Keduanya terkenal karena memiliki layar sekunder kecil di bagian atas, untuk akses cepat ke aplikasi. Yah, bisa dibilang fitur unik tersebut seperti ‘kakek’ dari desain takik trendi.

Sumber Gambar : Amazon

V10 dan V20 cukup bisa diterima oleh penggunanya. Namun hal tersebut belum bisa mengembalikan kepercayaan orang terhadap LG.

Apalagi V10 dan V20 memiliki bentuk lebih besar dibanding pesaingnya, dan desainnya tak terlihat bagus. Selain itu, kedua ponsel ini juga tidak memiliki ketahanan air. Kurang suksesnya kedua ponsel ini, akhirnya memicu desas-desus kalau LG akan menggabungkan seri G dan V.

Penjualan LG Wing Tak Mampu Meroket

Eksperimen ketiga yang gagal adalah LG Wing. Dari segi bentuk, LG Wing benar-benar unik dan mengesankan. Ponsel ini menyajikan desain layar yang bisa diputar. Membuat penggunanya bisa memakai 2 aplikasi sekaligus (contoh streaming sambil chatting).

LG WING

Namun meski bentuknya unik, tapi dari segi penjualan, LG Wing masih kalah jauh dengan pesaingnya.

Dilansir dari Phone Arena (laporan pada Oktober 2020), waktu itu, pre-order LG Wing baru mencapai 1.275 unit di Korsel. Beda jauh dengan pesaingnya, Samsung Galaxy S Fold 2 yang pre-order-nya tembus 80.000 unit di Korsel.

Padahal kalau dari segi harga, LG Wing lebih murah dibanding pesaingnya. Ponsel ini dibanderol $940 di Korsel. Sedangkan Galaxy Z Fold 2 dibanderol $2.063. Selain itu, spesifikasinya juga tak kalah jauh dengan pesaingnya.

Tapi yah, itu tak terlalu mengejutkan. Sebab Samsung adalah salah satu pemain top di industri. Sementara LG sedang berjuang untuk bertahan hidup.

Perangkat Lunak Tidak Menarik

Dari segi perangkat lunak, LG juga tidak memiliki kinerja yang luar biasa. LG terkenal sangat lambat dalam merilis pembaruan perangkat lunak untuk ponselnya. Mereka hanya memberikan pembaruan keamanan yang cuma sesekali.

Lalu dalam hal kamera. Meski LG-lah yang mempopulerkan lensa ultrawide di kamera, tapi aplikasi kamera LG masih tertinggal jauh dari pesaingnya.

LG juga lah yang pertama kali menawarkan kontrol manual. Membuat pengguna ponsel dapat mengambil foto ‘profesional’ tanpa perlu menginstal aplikasi pihak ketiga.

Sumber Gambar : Phone Arena

Sayangnya sejak saat itu, LG tidak pernah memperkenalkan fitur kamera yang menarik lagi. Bukannya mengembangkan mode kamera AI seperti pesaingnya, LG justru mengeluarkan fitur Triple Shot (di LG V40).

Fitur ini akan mengambil gambar dengan mode berbeda. Sayangnya dibutuhkan waktu lama untuk melihat hasil jepretannya. Otomatis membuat pengguna jengah dan tak mau memakai fitur ini lagi.

Harga Mahal, Kualitas Buruk

Meski di tahun 2014 pejualan ponsel LG meroket tajam, tapi sejak tahun 2015, penjualan mulai mengalami penurunan. Disusul tahun 2018, perusahaan mengalami penurunan penjualan smartphone 26% dari tahun-ke-tahun.

Meski mencatat angka penjualan smartphone yang mengecewakan, karena kepercayaan pelanggan mulai hilang, namun LG menolak untuk melakukan penyesuaian harga.

Bukannya menawarkan ponsel flagship yang lebih terjangkau, LG justru meniru pesaingnya. Perusahaan tetap membanderol ponsel flagship-nya dengan harga selangit, tanpa mendukungnya dengan fitur-fitur keren dan kekinian.

Dari mulai hilangnya kepercayaan dari pelanggan, kurangnya inovasi, penurunan penjualan yang tajam, dan kesalahan strategi pemasaran, sepertinya inilah yang membuat bisnis ponsel LG harus gulung tikar dan akhirnya resmi tutup bulan ini.

Nah buat kamu pengguna/mantan pengguna ponsel LG, kenangan apa saja yang kamu miliki dengan ponsel LG tersebut?

%d blogger menyukai ini: