5 Film Pendek Tentang Tionghoa

Imlek memang tinggal beberapa minggu lagi. Imlek menjadi momen yang bagus untuk mendoakan diri sendiri maupun keluarga supaya dianugerahi kesuksesan.

Imlek sendiri memang identik dengan Tionghoa, sekaligus momen yang pas untuk memberikan rekomendasi film tentang Tionghoa.

Untuk menyambut Imlek, maka rekomendasi film dari kami kali ini akan berhubungan dengan etnis Tionghoa.

Beberapa film yang akan kami rekomendasikan berikut, tidak hanya menghadirkan cerita seputar etnis Tionghoa saja, namun bisa menjadi bahan refleksi kita bersama sebagai masyarakat dengan beragam kultur budaya.

Berikut beberapa film pendek tentang etnis Tionghoa:

CINtA

Selama ini kisah cinta beda agama masih dianggap tabu bagi sebagian masyarakat. Selain mempunyai latar agama yang jelas berbeda, kisah cinta beda agama sering kandas ditengah jalan karena terhalang berbagai perbedaan.

Dilain sisi, kisah cinta berbeda agama selalu menjadi topik yang menarik untuk diperbincangkan. Salah satunya adalah film CINtA yang disutradarai oleh Steven Facius Winata.

Film ini menceritakan kisah seorang lelaki Tionghoa, yang diperankan oleh Verdi Solaiman dan seorang perempuan Muslim, yang diperankan oleh Titi Rajo Bintang.

Film pendek tersebut mampu menceritakan kisah cinta beda agama dengan bagus. Bahkan banyak adegan di dalamnya yang begitu menohok serta sendu.

Karena mampu menarik perhatian banyak orang, film ini pernah diputar dalam Clermont Ferrand International Short Film Fertival lho.

Letter of Unprotected Memories

Ini merupakan sebuah film eksperimental karya Lucky Kuswandi. Film pendek tersebut menggambarkan potret perayaan Imlek yang ada di Indonesia.

Imlek saat ini memang sudah tidak sama dengan yang ada di Orde Baru. Dimana waktu Orde Baru, ekspresi budaya Tionghoa masih tabu dan dilarang.

Sejak tahun 1999, Imlek baru dibolehkan untuk dirayakan. Bahkan Imlek menjadi hari libur bagi yang merayakan. Sedangkan pada tahun 2003, Imlek baru diresmikan menjadi hari libur nasional.

Lucky Kuswandi sendiri memang jeli dalam memotret perubahan-perubahan tersebut. Kemudian dia rangkai potret tersebut kedalam sebuah video esay yang sangat mengena di hati penonton.

Sugiharti Halim

Sugiharti Halim menjadi film favorit sepanjang masa bagi beberapa orang. Persoalan dalam film ini sangat sederhana. Apa arti sebuah nama? Bagi etnis Tionghoa, nama bisa menjadi persoalan yang sangat serius.

Seperti pada tahun 1967, etnis Tionghoa tidak diperkenankan untuk menggunakan nama khas mereka. Mereka harus mengganti nama Tionghoa, menjadi nama layaknya orang Indonesia.

Dan dalam film yang disutradarai oleh Ariani Darmawan ini, ada seorang perempuan yang bernama Sugiharti Halim, yang menceritakan keluh kesah atas namanya sendiri.

[irp posts=”63803″ name=”Inilah Alasan Mengapa Toko Online Jadi Favorit Saat Imlek”]

Cheng Cheng Po

Film pendek ini diunggah oleh BW Purbanegara ke YouTube. Cheng Cheng Po menceritakan kisah persahabatan berbeda latar belakang.

Saat seorang teman keturunan Tionghoa bernama Han tidak mampu membayar SPP, teman-temannya yang lain mencari cara agar dapat membantunya.

Film ini mengandung banyak nilai moral di dalamnya. Salah satunya, walaupun berbeda latar belakang, namun hal tersebut tidak menghalangi sesama manusia untuk saling tolong-menolong.

Cheng Cheng Po menggunakan cara yang lucu, dalam memaknai kembali arti Bhinneka Tunggal Ika. Selain cocok ditonton saat Imlek, film ini juga pas ditonton saat 17 Agustus, sebab terdapat nilai persatuan di dalamnya.

Trip to the Wound

Sumber Gambar : Jurnal Ruang

Setiap luka tentunya mempunyai cerita tersendiri. Itulah gambaran umum dari film yang disutradarai oleh Edwin ini. Film ini menceritakan seorang laki-laki yang bertemu dengan perempuan di dalam bis. Mereka kemudian sama-sama menceritakan tentang luka yang dialami.

banner cybersport
%d blogger menyukai ini: