Keunikan Film Spider-Man: Into the Spider-Verse

spider-man into the spider-verse

Film Spider-Man: Into the Spider-Verse menyuguhkan tampilan visual yang luar biasa unik di samping cerita yang seru. Film ini sudah memenangkan banyak penghargaan dan nominasi untuk film animasi terbaik.

Patrick O’Keefe, salah satu art director film ini, menyebutkan kalau tujuan utama tampilan visual Spider-Man: Into the Spider-Verse adalah mengambil elemen dunia nyata dan menampilkannya seperti di buku komik. Yah, dasar film animasi memang seperti itu. Lalu apa yang membuatnya unik?

Tiap Karakter Spider-man Punya Desain Berbeda

spiderman into the spider verse movie

Bukan sekedar desain kostum. Tapi desain masing-masing memiliki pendekatan gaya yang berbeda. Spider-Ham merupakan penghargaan untuk animasi klasik. Spider-man Noir, tentu saja, mendapat pendekatan khas film noir, lengkap dengan dialog era 1930an. Begitu pun dengan yang lain. O’Keefe menyebutkan bahwa pada dasarnya mereka membuat 5 film berbeda.

Sangat Memperhatikan Detil dan Hirarki Visual

film animasi spider man into spider-verse

Tentu saja, gaya yang berbeda itu bisa jadi masalah tersendiri. Terutama apabila semua Spider-man berkumpul. Tim artistik kemudian menyusun hirarki visual. Memilih mana gambar (dengan informasi) penting dan mana yang kurang penting. Dengan demikian perbedaan tetap terlihat, namun bisa memiliki harmoni.

[irp posts=”55562″ name=”Daftar 5 Film Animasi ‘Asli Buatan Anak Bangsa’ yang Wajib Ditonton”]

Menggunakan Pendekatan Teknik Cetak

spiderman into the spider verse

Demi mempertahankan tampilan visual yang seperti buku komik, tim artistik film menggunakan pendekatan teknik cetak untuk membuat efek gerak. Jadi tidak ada efek kabur gerakan (motion blur) di film ini.

Untuk menciptakan efek tersebut, mereka menggunakan pengaturan CMYK untuk obyek yang fokus, dan menggunakan titik-titik halftone untuk gradasi / efek gerak yang kabur. Kedua hal itu kemudian digabung dengan gerakan kamera.

Menggunakan Efek Film Kartun Klasik

spiderman into the spider-verse movement

Salah satu yang membuat film kartun klasik enak dilihat adalah gerakannya lentur. Kadang berlebihan. Sementara film animasi masa kini (dengan perkembangan 3D) lebih banyak dengan pendekatan realis.

Film Spider-man: Into The Spider-Verse membawa kembali efek lentur dan beberapa efek visual yang “berlebihan” ala film kartun lama. Mungkin tidak terlihat jelas kalau terlalu asik nonton. Tapi perhatikan gestur dan postur karakternya. Trik yang mirip juga dipakai di gerakan mata Spider-Man dan Deadpool (yang bukan film kartun). Hasilnya, semua tampak lebih hidup dan ekspresif.