Cara Kontroversial Apple Menjadi Perusahaan 1 Triliun Dollar

produk apple
Anom Penulis

Beberapa waktu lalu Apple berhasil menjadi perusahaan pertama dari Amerika yang bernilai 1 triliun Dollar. Prestasi ini memang bukan sembarangan. Namun Apple pun menerima kritik pedas mengenai caranya mencapai prestasi itu. Kontroversi Apple ini pun menjadi perbincangan.

Kesuksesan memang sering mendapat omongan miring. Tim Cook sendiri, dalam memo untuk karyawan Apple (via Buzzfeed News), menyebutkan kalau mereka patut bangga karena kerja kerasnya memberi hasil, namun mengingatkan bahwa pencapaian itu bukanlah ukuran, karena Apple berpijak pada inovasi dan kreasi, dan jangan lupa untuk bekerja keras kembali.

Inovasi dan kreasi memang jadi jargon Apple sejak jaman Steve Jobs. Beberapa tahun terakhir, jargon itu lebih sering hadir dalam tanda kutip, karena banyak yang berpendapat bahwa inovasi Apple hanyalah omong kosong belaka. Pada kenyataannya beberapa teknologi yang hadir di produk Apple sudah ada dan dipakai produk lain bertahun lalu.

[irp posts=”54090″ name=”Dianggap Bermusuhan, Apple dan Rusia Mulai Blokir Telegram”]

Memang, Apple masih membuat produk berkualitas. Tapi sedikit demi sedikit hal itu pun terkikis. Kualitas produk Apple sudah tidak seperti dulu. Padahal harga perbaikan boleh dibilang mahal. Dukungan layanan Apple pun sudah tidak seperti dulu lagi.

Tech Crunch membuat daftar menarik mengenai kontroversi Apple ini. Disebut kontroversi karena rata-rata memang tidak berpihak pada konsumen dan rekan bisnis. Cara Apple tersebut lebih terkesan memancing servis atau pembelian perangkat agar pendapatan Apple bisa lebih tinggi.

1. Kabel Colokan Gampang Rusak

Kalau kamu punya Macbook atau iPhone, kemungkinan besar kamu pernah bertemu dengan masalah kabel colokan rusak. Entah kabel Lighting atau kabel Magsafe. Tidak sedikit yang kemudian mengakalinya dengan per pena bolpoin, selotip, atau bahkan membeli aksesoris khusus untuk mencegah kerusakan tersebut.

Bahkan, pada tahun 2011, ada tuntutan soal hak penggantian untuk charger Magsafe Macbook. Apple akhirnya mengakui dan memberi layanan tersebut.

2. Membatalkan Langganan iTunes Sulit Dilakukan

Ketika kamu berlangganan sebuah layanan, biasanya pengaturan untuk itu — termasuk kalau mau membatalkan — ada di bagian akun atau punya bagian khusus. Namun di ekosistem Apple, pilihan untuk membatalkan langganan itu tersembunyi.

3. Tombol Kupu-kupu Keyboard Macbook Baru

Apple memperbarui desain konstruksi tombol keyboard Macbook pada tahun 2016. Tombol ini disebut dengan tombol kupu-kupu atau butterfly key karena bentuknya yang seperti kupu-kupu. Namun, desain baru ini rentan terhadap debu dan bisa macet.

Kalau sudah macet, perbaikan membutuhkan proses rumit yang membutuhkan tenaga ahli. Repotnya, Apple tidak selalu mau memperbaiki (sebagai ganti rugi), bahkan ketika masih garansi. Sama seperti masalah kabel, dibutuhkan sebuah tuntutan publik (di Amerika) sampai Apple mau memberi ganti rugi perbaikan.

4. Mengurangi Colokan, Menjual Konektor

Apple menghilangkan colokan audio 3,5 mm di iPhone 7. Apple juga mengganti semua colokan dengan USB type-C di Macbook Pro 2016. Sebagai gantinya, Apple menjual AirPods (Bluetooth earphone) dan konektor tambahan (dongle) bagi mereka yang membutuhkan.

5. Mengurangi Kerjasama dengan Rekanan

Kita tahu kalau banyak website dan blog yang bekerja sama dengan Apple dalam memasarkan produknya. Biasanya ada bagi hasil dari pendapatan untuk setiap klik yang mengarahkan ke pembelian (afiliasi) atau dari iklan. Namun dalam beberapa tahun terakhir, Apple juga memasang iklan di App Store (dengan begitu bersaing pendapatan iklan dengan website atau blok independen). Tidak hanya itu, Apple juga menutup program afiliasi untuk blog atau website review.

[irp posts=”53528″ name=”Berapa Lama Sih Masa Pakai untuk Gadget Apple?”]

Supaya obyektif, praktek seperti ini — walau mungkin berbeda cara — juga pernah dilakukan perusahaan besar lain. Misalnya Microsoft yang di masa lalu melakukan monopoli untuk sistem operasi dan program terkait Windows (termasuk Internet Explorer, MS Office, dll). Google pun saat mengalami tuntutan monopoli serupa (seperti Microsoft) dengan Android dan Play Store. Ia terkena denda 5 triliun Dollar di Eropa.

Lalu, supaya lebih obyektif lagi, laptop Macbook Pro tahun 2012 milik saya masih berfungsi baik. Kabel baru mulai rusak setelah tahun ke-5. Begitu pula baterai yang mulai melemah di tahun ke-6 (dulu saya biasanya mematikan laptop satu kali dalam seminggu). Jadi dalam beberapa hal (mungkin pada generasi tertentu), kualitas produk Apple memang bisa dibilang prima.

Pepatah mengatakan “Ada harga, ada rupa”, dan kita tahu bahwa harga produk Apple tidaklah murah. Tentunya, dengan harga premium, kita berharap kualitas yang terbaik beserta dukungan layanan yang terbaik pula.

Namun ketika banyak yang menunjukkan kalau tidak seperti yang diharapkan, paling tidak kita bisa menjadi lebih bijaksana dalam memilih. Menimbang apakah harga itu layak atau tidak. Apakah ada pilihan lain atau tidak. Yang jelas, kontroversi Apple ini bisa menjadi bahan pertimbangan lebih jauh dalam memilih produk.

    %d blogger menyukai ini: