Jan Koum, Pendiri WhatsApp, Keluar dari Facebook

jan koum whatsapp
Anom Penulis

Jan Koum, salah satu pendiri WhatsApp, berniat keluar dari Facebook. Rumor menyebutkan kalau hal itu disebabkan oleh perbedaan visi antara Koum dan pihak Facebook.

Jan Koum dan Brian Acton membuat WhatsApp pada tahun 2009. Facebook kemudian membeli aplikasi pesan ini pada tahun 2014 dengan nilai tinggi. Nilainya sebesar $19,3 milyar.

Brian Acton sudah terlebih dulu keluar dari WhatsApp — yang sudah jadi bagian dari Facebook — pada tahun 2017. Ia lalu membuat Signal Foundation yang kemudian menghasilkan aplikasi pesan Signal.

Jan Koum mengumumkan niatnya itu melalui sebuah status di Facebook.

“It’s been almost a decade since Brian and I started WhatsApp, and it’s been an amazing journey with some of the best people. But it is time for me to move on. I’ve been blessed to work with such an incredibly small team and see how a crazy amount of focus can produce an app used by so many people all over the world.

I’m leaving at a time when people are using WhatsApp in more ways than I could have imagined. The team is stronger than ever and it’ll continue to do amazing things. I’m taking some time off to do things I enjoy outside of technology, such as collecting rare air-cooled Porsches, working on my cars and playing ultimate frisbee. And I’ll still be cheering WhatsApp on – just from the outside. Thanks to everyone who has made this journey possible.”

Mark Zuckerberg, bos Facebook, segera menjawab status pamitan Koum tersebut dalam sebuah komentar.

“Jan: I will miss working so closely with you. I’m grateful for everything you’ve done to help connect the world, and for everything you’ve taught me, including about encryption and its ability to take power from centralized systems and put it back in people’s hands. Those values will always be at the heart of WhatsApp.”

Dari kedua interaksi tersebut, semua terlihat baik-baik saja. Namun The Washington Post melaporkan bahwa terdapat perbedaan pendapat antara Koum dan pihak Facebook.

Perbedaan itu terjadi pada bagaimana Facebook berusaha menggunakan data pengguna dan melemahkan enkripsi aplikasi WhatsApp. Perlindungan terhadap data pengguna merupakan salah satu yang dijanjikan kedua pendiri WhatsApp itu ketika mereka menjualnya ke Facebook. Hal itu ditunjukkan melalui hadirnya enkripsi (berdasar aplikasi Signal) di WhatsApp.

Namun beberapa waktu yang lalu terdapat perubahan di ‘Ketentuan dan Kebijakan Privasi’ WhatsApp yang menyebutkan bahwa Facebook bisa mengakses data yang ada. The Verge menyebutkan bahwa hal itu memancing reaksi keras di Eropa.

Di samping itu, seperti kita ketahui, Facebook sedang menjadi sorotan publik sehubungan dengan kasus Cambridge Analytica. Di kasus ini, sekitar 87 juta data pengguna Facebook dimanfaatkan untuk kampanye politik.

Brian Acton, yang sudah lebih dulu meninggalkan WhatsApp dan Facebook, malah secara tegas menyebut #DeleteFacebook.

Untuk yang memikirkan masalah privasi secara serius, hal ini mungkin bukan gelagat yang baik. Toh, kalaupun ingin pindah aplikasi chatting, hal itu akan sangat sulit.

Ada banyak aplikasi chatting bagus, namun teman atau keluarga yang menggunakannya mungkin tidak banyak. Meyakinkan mereka untuk mengganti WhatsApp juga bukan pekerjaan mudah. Silakan ingat bagaimana perpindahan orang dari BBM ke WhatsApp beberapa tahun lalu.

    %d blogger menyukai ini: