4 Perbedaan ‘Dreadout’ Versi Game dengan Film Terbaru

Gamer dari Indonesia beberapa waktu lalu cukup dikagetkan dengan kabar dari salah satu Studio Video Game di Indonesia.

Studio game asal Indonesia tersebut adalah Digital Happines, dimana mereka telah menentukan tanggal rilis dan line up aktor untuk adaptasi film dari game Dreadout. Hal tersebut menandakan bahwa Digital Happines sudah siap untuk merilis film kebanggaan mereka ‘Dreadout.’

Film Dreadout merupakan adaptasi dari game dengan judul serupa. Game Dreadout sendiri mengambil genre horor, yang kemudian diadaptasi menjadi film dengan genre serupa.

Namun tidak semua hal di film Dreadout sama dengan versi game. Berikut beberapa perbedaan yang ada dalam film Dreadout dan versi game-nya:

Hantu yang Tidak Sebanyak Versi Game

Sumber Gambar : Flickr Hive Mind

Mungkin jika selama ini kalian merasa senang saat melihat prestasi di Dreadout melalui Ghostpedia, maka kini kalian harus bersabar.

Sebab dalam versi film, hantu yang dihadirkan tidak sebanyak dalam versi game. Bahkan hantu dalam film Dreadout tidak lengkap layaknya di Ghospedia.

Hantu seperti Pocon on Motorcycle, Hantu Gunting, Tuyul, jurig Lorong, Babi Ngepet, dll tidak dapat kalian jumpai dalam film. Dalam versi film hanya ada hantu Lady in Red dan Pocong Celurit.

Perbedaan Karakter Tokoh

Sumber Gambar : Steam

Tokoh protagonis bernama Linda memang sangat kental dalam game Dreadout. Sayangnya karakter Linda digambarkan berbeda dengan versi film.

Linda dalam versi film digambarkan sebagai seorang dukun yang mampu melakukan hal tidak masuk akal, serta berbagai hal aneh lainnya yang membuat Linda begitu menonjol.

Sedangkan dalam versi game, Linda digambarkan sebagai anak indigo yang memanfaatkan foto untuk menangkap roh jahat.

Di dalam video game, Linda dibantu oleh teknologi canggih dalam menangkap hantu. Sedangkan di film, penangkapan hantu murni menggunakan kekuatan ajaib Linda.

[irp posts=”57416″ name=”Film Adaptasi Game DreadOut Siap Rilis Januari 2019!”]

Setting Lokasi Berbeda

Sumber Gambar : Chordian

Dalam versi game, Linda dan kawan-kawan diceritakan masuk dalam dunia lain berbentuk sekolah terlantar.

Sedangkan dalam versi film, latar tempat justru mengacu kepada kehidupan anak sekolah modern, serta dilema mencari jati diri dengan mendapat pengakuan para followers.

Sampai pada akhirnya, hal tersebut mendorong teman-teman Linda untuk memaksanya membuka jalan ke dunia lain.

Mereka kemudian masuk ke dalam gedung terlantar berhantu. Gedung serta sekolah adalah salah satu perbedaan sangat kontras dalam film Dreadout dan game-nya.

Bukan Konsep Edukasi

Bagi pemain game Dreadout, kalian pasti merasa bahwa Digital Happines ingin mengedukasi pemain, tentang budaya dan urban legend yang ada di Indonesia, kemudian diperkenalkan ke seluruh pemain di dunia.

Hal ini dibuktikan dengan adanya Ghostpedia dalam game Dreadout. Ghostpedia selalu memberi informasi backstory dari setiap hantu.

Mungkin karena versi film tidak ditargetkan untuk orang luar negeri, maka produser mengurangi urban legend yang ada dalam film tersebut.

Terlalu Banyak Jokes dan Reference

Bagi penonton Indonesia, jokes adalah bumbu pelengkap yang harus ada dalam sebuah film. Bila jeli, maka kalian bisa menemukan jokes dalam setiap film Indonesia.

Hal ini tidak luput dalam film Dreadout. Dimana tokoh selain Linda seperti Alex dan penjaga gedung dihadirkan untuk memberi unsur komedi.

Selain itu, jokes dalam film Dreadout selalu dihadirkan agar sesuai dengan selera penonton Indonesia.

Apabila memainkan game Dreadout, hampir tidak ada unsur komedi di dalamnya. Pemain hanya akan merasakan suasana mencekam dalam game tersebut.

Sementara itu, referensi dalam Film Dreadout sepertinya memang sengaja dimasukkan oleh sutradara.

Salah satunya adalah adegan ‘Here’s Johny’ dari film horor The Shining, yang terlihat ada dalam film ini. Tidak hanya itu, pengambilan gambar yang cukup bagus juga tidak dibuat sembarangan oleh sutradara.

More Stories
More Here Eye: Lagi-lagi Game Menantang