Bayangkan sebuah ballroom hotel yang biasanya diisi presentasi tenang dan obrolan santai antar media, tiba-tiba berubah jadi arena angkat beban. Beberapa orang berdiri di atas laptop, memegang dumbbell seberat puluhan kilogram, lalu benar-benar melakukan deadlift—dengan laptop itu sebagai pijakannya.
Bukan prank, bukan pula insiden yang tak disengaja. Itulah salah satu momen paling diingat dari ASUS No.1 Quality & Service 2026, yang digelar di Ballroom Lotus, Artotel Suites Bianti, Yogyakarta, pada 15 September 2026.
Puluhan media dan kreator konten dari Yogyakarta, Solo, hingga Boyolali berkumpul hari itu bukan untuk sekadar melihat laptop baru dipajang di meja kaca. Mereka diundang untuk menyaksikan—bahkan mencoba sendiri—sejauh mana ASUS berani membuktikan klaim ketahanan produknya. Dan dari situlah cerita hari itu dimulai.
Yogyakarta, Panggung untuk Komitmen yang Sudah Berjalan Belasan Tahun
ASUS sudah memegang posisi sebagai pemimpin pasar laptop di Indonesia selama lebih dari 13 tahun berturut-turut sejak 2013—sebuah rekor yang, jika tidak dijaga, gampang saja tergerus oleh pemain baru dengan spesifikasi mentereng dan harga miring.
Lewat rangkaian roadshow “No.1 Quality & Service” yang salah satu titiknya singgah di Yogyakarta ini, ASUS Indonesia ingin menegaskan satu hal: mempertahankan posisi nomor satu bukan cuma soal jualan unit sebanyak-banyaknya, tapi soal menjaga kepercayaan yang sudah dibangun selama lebih dari satu dekade.
Hadir mewakili ASUS Indonesia adalah Brama Setyadi (Head of Public Relations and Digital), Davina Larissa (Country Marketing Manager), dan Adrian Pradipta (Technical Public Relations).
Dari panggung, pesan yang disampaikan cukup konsisten: kepercayaan konsumen Indonesia selama bertahun-tahun itulah yang mendorong ASUS terus memperkuat standar kualitas produk sekaligus layanan purnajualnya—bukan hanya lewat klaim di atas kertas, tapi lewat bukti yang bisa disaksikan langsung.
Ketika Laptop Diinjak, Dibanting, dan Tetap Menyala
Bagian paling mencuri perhatian di acara ini jelas booth uji ketahanan. Di sinilah laptop-laptop dari lini ProArt, Zenbook, hingga Vivobook diperlakukan dengan cara yang biasanya bikin pemilik laptop meringis: dijatuhkan dari ketinggian sekitar 1,5 meter, ditindih beban hingga 100 kilogram, bahkan dijadikan alas untuk sesi angkat beban dengan tambahan dumbbell hingga 30 kilogram di atas unit Zenbook 16 OLED.
Semua pengujian ini merujuk pada standar militer MIL-STD 810H—sertifikasi yang aslinya dirancang untuk memastikan perangkat elektronik tetap berfungsi di kondisi ekstrem: guncangan, suhu panas maupun dingin ekstrem, kelembapan tinggi, sampai tekanan udara rendah. Di acara ini, demonstrasi difokuskan pada uji jatuh dan uji beban karena paling mudah disaksikan langsung, meski standar lengkapnya mencakup jauh lebih banyak skenario.
Hasilnya? Unit-unit yang diuji, termasuk Zenbook A14 OLED yang dijatuhkan langsung di depan mata para hadirin, tetap menyala normal setelahnya. Momen ini bukan sekadar gimmick media gathering—ini adalah cara ASUS menjawab kekhawatiran paling umum dari calon pembeli laptop premium: kalau laptop ini mahal, apa jaminannya tahan lama untuk dipakai sehari-hari, apalagi dibawa bepergian?

NPU 80 TOPS dan Asisten AI yang Bisa Bekerja Sendiri
Setelah urusan ketahanan fisik selesai dibuktikan, giliran sisi “otak” laptop yang jadi sorotan. Seluruh lini terbaru ASUS yang dipamerkan—mulai dari Vivobook S14, Vivobook 14 AI, Vivobook Go 14, Zenbook, Zenbook Duo, Zenbook A14, hingga ProArt—kini dibekali Neural Processing Unit (NPU) dengan performa 50 TOPS ke atas, bahkan menyentuh 80 TOPS di varian tertinggi. Angka ini jauh melampaui syarat minimum 40 TOPS yang ditetapkan Microsoft untuk kategori Copilot+ PC, lengkap dengan tombol khusus Copilot di keyboard.
Yang menarik, kemampuan AI ini tidak berhenti di angka spesifikasi. ASUS menghadirkan dua fitur andalan: ASUS Virtual Assistant Omni, asisten AI yang tetap bisa diajak “bekerja” meski laptop sedang offline, dan ASUS Zenni Claw, semacam AI Agent yang bisa menjalankan rangkaian tugas secara mandiri lewat kumpulan “ASUS Skills”—misalnya menyusun draf presentasi atau menyiapkan itinerary perjalanan tanpa harus dituntun langkah demi langkah. Dengan kata lain, laptop-laptop ini tidak cuma dituntut kuat secara fisik, tapi juga “pintar” membantu penggunanya menyelesaikan pekerjaan sehari-hari.
Garansi yang “Naik Level”
Kalau demo ketahanan fisik adalah bukti di atas panggung, maka pengumuman perpanjangan garansi adalah bukti komitmen di atas kertas—dan ini yang paling langsung menyentuh kalkulasi calon pembeli. ASUS mengumumkan peningkatan signifikan untuk lini premium: ProArt, Zenbook, Vivobook S Series, dan Vivobook Flip kini mendapat garansi internasional 3 tahun, ditambah 3 tahun ASUS VIP Perfect Warranty (ADP) yang mencakup kerusakan akibat kecelakaan seperti tumpahan cairan atau benturan—naik dari sebelumnya yang hanya 1 tahun ADP. Sementara lini Vivobook Classic mendapat perpanjangan menjadi 2 tahun garansi internasional plus 2 tahun ADP. Bahkan aksesori pun kebagian jaminan: garansi penggantian 100% selama 1 tahun untuk kerusakan fungsional, di luar tas ransel.
Perpanjangan garansi ini ditopang oleh jaringan layanan yang juga diperluas: 141 service center resmi tersebar di seluruh Indonesia, dengan cakupan dukungan di lebih dari 90 negara secara global. Untuk pengguna yang ingin layanan lebih personal, tersedia fasilitas premium seperti Fastlane (jalur servis prioritas), pengiriman bolak-balik gratis untuk unit yang perlu diperbaiki, hingga “Laptop Spa”—layanan perawatan berkala yang mencakup penggantian thermal paste secara cuma-cuma.
Sentuhan Warna dan Aksesori untuk Gaya yang Lebih Personal
Di tengah pembahasan yang serius soal ketahanan dan garansi, ASUS juga menyempatkan sisi yang lebih ringan lewat kampanye “Pick Your Vibe”. Vivobook 14 dan Vivobook Go 14 kini hadir dalam pilihan warna pastel yang lebih personal: Lilac Mist Purple, Quiet Blue, dan Sage Green. Warna-warna ini dipasangkan dengan aksesori senada, seperti Marshmallow Keyboard KW100 dan Marshmallow Mouse MD100 dengan tombol yang lebih senyap, serta SmartO Mouse MD200 yang didesain lebih ergonomis untuk penggunaan jangka panjang.
Sentuhan ini terasa seperti pengingat bahwa di balik semua sertifikasi militer dan angka TOPS, ASUS tidak lupa bahwa laptop juga barang yang dipakai setiap hari—dan penggunanya berhak memilih perangkat yang terasa seperti dirinya sendiri, bukan cuma yang paling kencang di atas kertas.
Bukan Sekadar Klaim, tapi Sesuatu yang Bisa Disaksikan Langsung
Kalau ditarik benang merahnya, apa yang ditunjukkan ASUS di Yogyakarta hari itu sebenarnya sederhana: ketimbang hanya mengumbar klaim “tahan banting” dan “bergaransi lama” lewat brosur, mereka mengundang media dan kreator untuk menyaksikan—bahkan mempraktikkan—sendiri buktinya. Laptop yang diinjak tetap menyala. Garansi yang tadinya cuma setahun kini bisa mencapai tiga tahun. AI yang tadinya sekadar fitur tempelan kini benar-benar bisa diajak bekerja sama menyelesaikan tugas.
Pada akhirnya, sebuah laptop yang baik memang bukan cuma soal spesifikasi setinggi apa yang tertulis di atas kertas, melainkan seberapa jauh perangkat itu bisa diandalkan saat benar-benar dipakai—dibawa bepergian, ditumpuk di dalam tas, dipakai kerja sampai larut malam, dan tetap menyala keesokan harinya. Dan lewat rangkaian uji banting, perpanjangan garansi, serta lompatan kemampuan AI ini, ASUS seperti ingin mengatakan bahwa predikat “No.1” itu bukan gelar yang cukup diraih sekali, melainkan komitmen yang harus terus dibuktikan ulang.




