Terlalu Sering Foto Selfie Indikasi Gangguan Mental

foto selfie
Anom Penulis

Beberapa waktu lalu, sebuah riset akademis menunjukkan kalau perilaku terlalu sering foto selfie masuk dalam gangguan mental. Mereka menyebut gangguan itu dengan nama selfitis.

Sekelompok peneliti dari Nottingham Trent University dan Thiagarajar School of Management merilisnya dalam International Journal of Mental Addiction (via DigitalTrends). Latar belakang penelitian ini adalah menguji kebenaran berita hoax di tahun 2014.

Penelitian Foto Selfie

Berita hoax itu menyebut bahwa American Psychiatric Association (APA) mengklasifikasikan selfitis sebagai gangguan mental baru. Berita itu juga mengelompokkan 3 tingkatan gangguan: Kecenderungan (“membuat foto selfie minimal 3 kali sehari tapi tidak mengirim ke media sosial”), akut (“membuat foto selfie minimal 3 kali sehari dan mengirim semua ke media sosial”), dan kronik (“membuat foto selfie dan mengirim ke media sosial lebih dari 6 kali sehari”).

Riset ini melakukan penelitian dalam dua tahap. Pertama, Focus Group Interview dengan 225 mahasiswa sebagai responden. Kedua, pengembangan skala selfitis dengan 734 mahasiswa.

[irp posts=”45252″ name=”Ayo Move On! Matikan Facebook Memories”]

Responden penelitian adalah pelajar India. Alasannya, India memiliki pengguna Facebook terbanyak di dunia. Lalu India juga memiliki tingkat kematian tinggi dari usaha memotret selfie di tempat atau situasi berbahaya (76 kasus dari total 127 di seluruh dunia!).

Walau berita di tahun 2014 (soal penelitian APA) memang hoax, tapi ternyata kecenderungan dan klasifikasi yang ditampilkan terbukti cukup benar.

Hasil Penelitian

Berdasar penelitian tersebut, tiap individu yang menderita selfitis menggunakan foto selfie sebagai usaha untuk meningkatkan kepercayaan diri dan suasana hati, atau berusaha mendapat pengakuan secara sosial (mencari perhatian, kompetisi sosial, masuk ke kelompok sosial tertentu). Kecanduan foto selfie juga sering menunjukkan masalah mental seperti rendahnya kepercayaan diri.

Dari sisi statistik, sebagai konfirmasi 3 tingkatan di atas, responden menunjukkan 34 persen memiliki kecenderungan selfitis, 40,5 persen akut, dan 25,5 persen kronik. Yang mengejutkan, statistik responden juga menunjukkan obsesi foto selfie lebih banyak terjadi di laki-laki (57,5 persen) daripada perempuan (42,5 persen). Sementara dari sisi usia, umur 16-20 tahun lebih mudah “terjangkit” obsesi selfie alias selfitis.

[irp posts=”42240″ name=”5 Tips Membuat Foto Travel dengan Hasil Unik”]

Walau begitu, riset itu juga menyebut bahwa penelitian lebih jauh bisa dilakukan sesuai tingkatan umur dan wilayah yang lebih luas. Tentunya agar bisa memberi hasil yang lebih tepat. Karena tiap daerah (negara) punya kondisinya masing-masing.

Terakhir, riset menunjukkan bahwa selfitis bukanlah satu-satunya indikasi dari berita hoax yang berujung pada riset ilmiah. Kecanduan internet juga seperti itu.

Ada Fenomena Lain

Mungkin hasil riset memang menunjukkan gejala gangguan mental ketika terlalu sering foto selfie. Tapi toh seperti yang mereka sebut, masih perlu riset lebih jauh dengan responden lebih luar agar hasilnya lebih akurat.

Kenapa? Saat ini sudah banyak individu yang secara profesional menggunakan selfie. Mereka menjadi influencer, dan bisa mendapat nafkah dari sana. Ibaratnya seperti foto model, tapi memotret sendiri.

Saya pikir faktor ini juga perlu dipertimbangkan. Termasuk juga gabungan berbagai faktor itu. Misalnya awalnya mungkin kurang percaya diri dan butuh pengakuan sosial, namun akhirnya bisa hidup mandiri sebagai seleb media sosial. Akhirnya cukup positif kan?

Yah, sebagai fenomena sosial yang cukup baru (seiring pesatnya teknologi), riset seperti ini memang masih belum banyak. Kontroversi juga sering muncul. Mungkin kalau kamu memang hobi foto selfie, kamu perlu mempertimbangkan motif pribadimu. Apa manfaat dari kegiatan itu. Kalau tujuannya bisa positif, kelihatannya ya tidak apa-apa. Selama tidak terlalu sering alias jadi obsesi. ????

    %d blogger menyukai ini: