Bagaimana Jika Kita Stop Pakai Facebook?

Pernahkah kamu membayangkan bagaimana kalau stop pakai Facebook? Bukan hanya aplikasinya saja, tapi semua layanan di bawah naungannya. Sulit nampaknya ya? Tapi bukan tidak mungkin.

Sudah bukan rahasia lagi kalau raksasa media sosial ini sering punya masalah. Misalnya kasus pemilihan presiden Amerika (Cambridge Analytica), kebijakan privasi WhatsApp, atau sengketa dengan Apple.

Yang terbaru, Frances Haugen (mantan pegawai Facebook) mengungkap kalau Facebook mengutamakan keuntungan perusahaan di atas keamanan pengguna. Bahkan disebutkan kalau algoritma media sosial di bawah naungan Facebook mengutamakan konten kontroversial (via The Washington Post) dan memberi efek buruk pada remaja. Termasuk di Instagram.

Data yang muncul cukup megejutkan. Menurut NPR, 13,5% remaja perempuan (di Inggris) punya kecenderungan bunuh diri setelah aktif di Instagram, 17% punya gangguan pola makan, 32% tidak percaya diri dengan kondisi tubuh. Belum lagi kalau kita bicara soal kecanduan medsos dan bullying.

Bisakah Stop Pakai Layanan Facebook?

Sebagai aplikasi media sosial, Facebook memang bagaikan toko one-stop-shopping. Hampir semua ada di sana. Mau curhat di status bisa, mau jualan bisa, punya komunitas bisa, mencari tontonan atau game pun bisa.

Kalau kamu sekedar memakainya untuk kepentingan pribadi, mungkin berhenti pakai Facebook bukan masalah. Tapi kalau berhubungan dengan bisnis, tentu bisa berbeda ceritanya. Belum lagi kalau kita bicara aplikasi lain di bawah bendera Facebook. Seperti Instagram, Messenger, dan WhatsApp.

Kalau kita bicara anak muda, mungkin aplikasi media sosial yang muncul di benak hanya ada 2, yaitu TikTok dan Instagram. Terlebih lagi, sama seperti Facebook, Instagram juga sudah bukan sekedar aplikasi berbagi foto dan video. Tapi juga untuk mencari pendapatan.

Apalagi WhatsApp. Aplikasi ini sudah jadi aplikasi utama buat ngobrol. Mau ngobrol pakai teks atau video, kebanyakan orang tetap memakai WhatsApp. Tidak mudah mengajak orang berpindah ke platform lain, seperti Telegram atau Signal. Bahkan pengguna iPhone pun banyak yang tetap pakai WhatsApp daripada iMessage.

Jadi secara praktis, bisa saja kita stop pakai aplikasi layanan di bawah Facebook. Tapi secara personal kamu bisa “kesepian” dan secara ekonomis (kalau punya bisnis yang memanfaatkan medsos) bisa terhambat.

Alternatif Layanan Facebook

Tapi anggaplah kalau kita mau benar-benar berhenti pakai aplikasi layanan Facebook. Apakah ada alternatif lain?

Secara praktis, sejauh ini nampaknya belum ada media sosial yang “one-stop shopping” seperti Facebook. Begitu juga untuk konten foto dan video seperti Instagram (dengan Feed, Stories, dan Reel-nya). Begitupun jumlah pengguna di sekitar kita seperti yang pakai WhatsApp.

Mungkin perlu kita coba lihat beberapa aplikasi alternatif layanan Facebook yang ada.

Status / Kiriman Teks / Aktualisasi Diri

Kalau kamu ingin mengemukakan opini atau berbagi link situs, pilihan yang paling dekat adalah Twitter. Di Twitter kamu juga bisa mengikuti berita dan tren yang sedang berkembang.

Bahkan Twitter mungkin sedikit lebih baik karena kita bisa memilih lini masa yang lebih aktual, bukan yang disarankan.

Komunitas

Untuk kebutuhan komunitas menggantikan Grup di Facebook, kamu bisa mencoba memakai Discord atau bahkan Slack (mirip Discord tapi biasanya untuk kerja tim). Kedua aplikasi ini juga bisa lebih baik, karena kamu bisa membuat kanal-kanal sesuai topik.

Pilihan lainnya adalah memakai grup di aplikasi pesan seperti di Telegram. Yah, Telegram pun punya fitur channel untuk komunitas.

Selain itu, Twitter juga sedang menguji fitur komunitas. Sehingga kamu bisa ngobrol dengan mereka yang punya minat sama denganmu, tanpa mengganggu konten di lini masa.

Foto & Video

Untuk fitur posting foto dan video, kamu bisa coba media sosial bernama Vero. Media sosial bebas iklan ini memiliki fitur kiriman foto dan video, mendengarkan musik, obrolan (teks, suara, dan video), bahkan klip game.

Selain itu, tentu kamu bisa juga menggunakan aplikasi YouTube dan TikTok. Tapi ya kedua aplikasi ini memang berbasis video dan musik.

Pemasaran / Jualan

Kalau kamu punya barang dagangan atau usaha, kamu bisa memasarkannya lewat Twitter, Pinterest, atau memanfaatkan komunitas di Discord dan Telegram, atau Vero.

Pertimbangkan Baik-baik

Seperti yang kamu lihat, ada beberapa alternatif aplikasi media sosial yang menarik selain dari Facebook. Tapi bukan berarti akan mudah jika kamu stop pakai aplikasi medsos dari Facebook.

Sekali lagi, hambatan utamanya adalah pengguna. Mungkin kamu akan menemukan kalau pengguna (temanmu) media sosial atau aplikasi alternatif itu tidak sebanyak yang ada di Facebook, Instagram, atau WhatsApp. Ini jelas halangan besar.

Kedua, memakai layanan alternatif Facebook bukan berarti kamu lebih aman dari pengaruh buruk medsos. Contohnya, diskusi yang toxic tetap ada di YouTube, TikTok dicurigai memantau privasi pengguna, dan bahkan Telegram mendapat kritik soal protokol enkripsinya.

Jadi silakan pertimbangkan baik-baik. Memakai media sosial, entah Facebook atau bukan, pada akhirnya tetap tergantung pada penggunanya.

Jadi, apa kamu pernah berpikir stop pakai layanan Facebook? Mungkin tidak.

%d blogger menyukai ini: