Teori Konspirasi Sebut Jaringan 5G Penyebab Coronavirus

teori konspirasi coronavirus 5g

Wabah virus COVID-19 memang memunculkan banyak teori dan berita bohong (hoax). Salah satu teori konspirasi yang muncul dengan cukup bombastis menyebutkan kalau teknologi jaringan 5G merupakan penyebab mewabahnya coronavirus.

Teori konsiparsi ini sebenarnya sudah berkembang cukup lama. Paling tidak sejak bulan Januari 2020. Namun pada bulan April, teori ini meledak di internet. Sampai aktor Woody Harrelson pun membahasnya di Instagram.

Perkembangan Teori 5G-Coronavirus

Wuhan: Kota Pertama

Sebuah kiriman di Facebook membuat klaim kalau Wuhan, tempat pertama virus ini berkembang, juga merupakan tempat pertama teknologi 5G dikembangkan. Kiriman itu menyebut kalau jaringan 5G mempengaruhi sistem daya tahan tubuh dan dengan begitu mendorong virus seperti flu mudah menjangkiti.

Fullfact.org membahas teori ini pada akhir bulan Januari 2020. Mereka menyebutkan kalau kiriman itu muncul di grup anti-5G di Facebook. Facebook sendiri sudah menandainya sebagai berita bohong.

Sejauh ini tidak ada bukti untuk teori tersebut. Wuhan memang merupakan salah satu kota tempat uji coba jaringan 5G. Namun bukan yang pertama, karena Beijing, Shanghai, Guangzhou, dan Hangzhou sudah memilikinya terlebih dulu.

Sementara jaringan 5G merupakan transmisi gelombang radio yang bersifat non-ionizing. Radiasi elektromagnetik tipe ini tidak membawa energi yang cukup untuk bisa mempengaruhi atom atau molekul. Artinya tidak merusak DNA di dalam sel.

Bill Gates Menjadi Kambing Hitam

Kemudian pada bulan Maret 2020, kembali muncul kiriman Facebook yang mengklaim coronavirus merupakan hasil dari paparan jaringan 5G. Yang cukup menarik, kiriman itu juga menyebut kalau Bill Gates-lah yang menciptakan virus tersebut dan sudah menciptakan vaksinnya, sehingga bisa mengontrol dunia.

Teori ini mungkin muncul berdasar paten yang didaftarkan oleh Pirbright Institute. Institut itu memang sempat mendapat pendanaan dari Bill and Melinda Gates Foundation. Namun, pendanaan itu bukan untuk paten tersebut, dan Intstitut itu pun tidak dibuat oleh Bill Gates.

Di sisi lain, Bill Gates sendiri memang menyebutkan kalau Bill and Melinda Gates Foundation mendanai pengembangan kandidat vaksin coronavirus dan mendonasikan $100 juta termasuk paket tes virus tersebut di Washington.

Jadi jelas tidak cocok ya.

Menara Telekomunikasi di Inggris Dibakar

Pada awal bulan April, beberapa menara komunikasi di Birmingham, Liverpool, dan Belfast dibakar. Walau motif utama tidak jelas, Walikota Liverpool mengatakan kalau ia menerima ancaman sehubungan teori 5G dan coronavirus. Media Irish News juga menyebutkan potongan klip video pembakaran tiang telepon, dengan seruan “F*ck 5G” dan “Viva la revolution” terdengar seiring api membara.

Kejadian itu disusul dengan pekerja telekomunikasi di Inggris yang mengalami hujatan saat bekerja. Sebuah video di Twitter menunjukan hal tersebut.

Menanggapi hal tersebut, perusahaan telekomunikasi di Inggris membuat pernyataan terbuka untuk menahan tersebarnya teori konspirasi dan berita bohong, juga mencegah vandalisme pada insfrastrutur telekomunikasi. Pemerintah Inggris pun ikut membuat pernyataan resmi soal ini.

Pertanyaannya, ketika ada anjuran swa-karantina dan proses komunikasi bersandar pada tiang dan menara itu, kenapa sarana itu malah dibakar?

Media Sosial Ambil Langkah untuk Meredam

Facebook, sebagai tempat awal teori itu berkembang, mengambil langkah memberikan fokus cek fakta untuk semua yang berhubungan dengan teori 5G dan coronavirus. Namun mereka juga menyatakan kalau tidak memblokir kiriman yang bersifat teori konspirasi (karena menjadi bagian kebebasan berpendapat).

YouTube juga sudah menyatakan kalau akan menghapus rekomendasi video yang berhubungan dengan teori konspirasi 5G dan coronavirus. Di sisi lain, sama seperti Facebook, YouTube mungkin mengijinkan video yang membahas kontroversi jaringan 5G secara “tipis-tipis”.

Yah, kita memang hidup di masa yang cukup aneh. Ketika teknologi informasi menjadi dasar kegiatan sehari-hari namun berita bohong alias hoax justru sering muncul. Orang-orang tidak terlebih dulu melakukan cek fakta dan langsung menyantapnya begitu saja.

Mungkin kita bisa memakluminya sedikit, karena media sosial memang seperti warung kopi atau perkumpulan arisan: Tempat ajang bertukar gosip bombastis. Fakta, walau semudah mencari di Google, tampaknya bukan hal penting lagi.

Nah, karena saat ini sebagian besar kegiatan kita berlangsung secara online, harap jangan mudah percaya berita atau teori yang tersebar begitu saja. Jangan pula asal berbagi ke WhatsApp atau media sosial. Cek dulu kebenarannya.

Yang pasti, tetap waras ya, gaes

banner cybersport
%d blogger menyukai ini: