Gak Akur, Ini Kronologi Elon Musk Nyinyir ke Mark Zuckerberg

Mungkin sudah bukan rahasia lagi kalau dua juragan teknologi, Elon Musk dan Mark Zuckerberg, tidak rukun. Keduanya sering nyinyir satu sama lain dalam pernyataan publik.

Kita tahu kalau keduanya termasuk orang paling kaya di dunia. Elon Musk bahkan saat ini (ketika artikel ditulis) merupakan orang terkaya di dunia. Yah, tidak heran, keduanya berdiri di depan perusahaan besar.

Di belakang Elon Musk terdapat beberapa perusahaan seperti Tesla, SpaceX, The Boring Company, Neuralink, dan OpenAI. Ia juga dulu mendirikan PayPal.

Sedangkan Mark Zuckerberg tentu saja merupakan pendiri media sosial Facebook yang juga mencakup layanan lainnya: Messenger, Instagram, dan WhatsApp.

Perseteruan Elon dan Mark

Ternyata, perseteruan antara Elon Musk dan Mark Zuckerberg sudah berlangsung cukup lama. Tidak jarang mereka berdua bergantian menyindir pihak lain bila ada kejadian tertentu. Baik di media massa maupun di media sosial.

Kegagalan Roket SpaceX

Entah apa sebenarnya yang ada di benak mereka masing-masing. Namun mungkin awal perseteruan Elon dan Musk ada di peristiwa meledaknya roket Falcon 9 SpaceX pada tahun 2016, yang membawa satelit milik Facebook.

Mark Zuckerberg, yang saat itu berada di Afrika, menyatakan di Facebook kalau ia kecewa dengan kegagalan peluncuran roket SpaceX yang menghancurkan satelit milik Facebook.

…I’m deeply disappointed to hear that SpaceX’s launch failure destroyed our satellite that would have provided connectivity to so many entrepreneurs and everyone else across the continent

Mark Zuckerberg (via TIME)

2 tahun berselang, Elon Musk menjawab pertanyaan soal kejadian itu di Twitter kalau SpaceX menawarkan ganti peluncuran secara gratis dan ia yakin kalau Facebook pun mendapat asuransi dari kecelakaan itu.

Yeah, my fault for being an idiot. We did give them a free launch to make up for it and I think they had some insurance.

Elon Musk (via Twitter)

Selisih Pendapat Soal AI

Perkembangan teknologi artificial intelligence (AI) yang pesat membawa pro dan kontra. Elon Musk, yang mendirikan Tesla dan OpenAI, kerap memperingatkan bahaya teknologi AI kalau tidak ditangani dengan benar, misalnya AI akan bisa mengambil alih pekerjaan manusia.

Mark Zuckerberg menyatakan ketidak-setujuannya dalam sebuah tayangan video langsung di Facebook pada tahun 2017. Berbeda dengan Elon, Mark merasa sangat optimis dan tidak paham dengan pemikiran mereka yang menganggap AI berbahaya.

I have pretty strong opinions on this. With AI especially, I’m really optimistic, and I think that people who are naysayers and try to drum up these doomsday scenarios … I don’t understand it. It’s really negative, and in some ways, I actually think it’s pretty irresponsible.

Mark Zuckerberg (via Facebook)

Menanggapi pernyataan itu, Elon mengatakan lewat Twitter kalau pemahaman Mark soal AI terbatas.

I’ve talked to Mark about this. His understanding of the subject is limited.

Elon Musk (via Twitter)

Kasus Cambridge Analytica dan Facebook

Pada tahun 2018, dunia digegerkan oleh kasus Cambridge Analytica yang menggunakan Facebook untuk mengambil data informasi pribadi tanpa persetujuan pengguna untuk kepentingan politik.

Brian Acton, pembuat WhatsApp yang kemudian mendukung Signal, menyatakan di Twitter kalau inilah saatnya menghapus Facebook. Elon menanggapinya secara singkat: “Apa sih Facebook?”

Seorang pengguna menanyakan apakah halaman Tesla di Facebook akan dihapus. Tak lama kemudian, halaman resmi SpaceX, Tesla, dan Elon Musk dihapus dari Facebook. Elon menyebutnya bukan langkah politis atau bukan karena ditantang, hanya karena ia tidak suka Facebook.

It’s not a political statement and I didn’t do this because someone dared me to do it. Just don’t like Facebook. Gives me the willies. Sorry.

Elon Musk (via Twiter)

Lagi, Hapus Facebook

Pada bulan Februari 2020, aktor Sacha Baron Cohen mengemukakan pendapatnya soal Facebook. Ia mengatakan kalau media sosial itu seharusnya dipegang oleh pemerintah, bukan seorang kaisar.

Elon menanggapinya juga dengan singkat: “#DeleteFacebook. It’s Lame.”

Kasus Rusuh di Capitol Hill

Pada bulan Januari 2021, kerusuhan terjadi di Capitol Hill, Amerika, seiring protes pendukung Donald Trump terhadap hasil pemilu. Elon Musk menggatakan “Ini disebut efek domino” dan mengunggah foto domino dengan bilah pertama bertuliskan “situs yang menilai cewek di kampus” dan bilah terakhir merujuk tweet soal kerusuhan.

Walau tidak menyebut Facebook, “situs menilai cewek di kampus” itu merupakan referensi pada tahap awal perkembangan media sosial itu di kampus Harvard.

Facebook sendiri menjadi salah satu media sosial tempat pendukung Trump menyebar propagandanya, termasuk untuk menyulut aksi kekerasan. Setelah aksi ricuh di Capitol Hill, berbagai media sosial menutup akun Trump dan para pendukungnya.

Perubahan Kebijakan WhatsApp

Pada bulan Januari 2021 juga ada kejadian lain. WhatsApp mengumumkan perubahan kebijakan privasi yang membuat pro dan kontra. Elon Musk menanggapi berita itu dengan sebuah meme di Twitter yang mereferensikan kalau Facebook (di meme itu Mark Zuckerberg) tahu informasi lebih jauh dari penggunanya.

Elon Musk kemudian mereferensikan Signal sebagai aplikasi pesan yang lebih baik. Entah akibat tweet Elon ini atau karena berita masalah privasi, pengguna aplikasi Signal melonjak dan WhatsApp pun memberi klarifikasi soal kebijakan itu.

%d blogger menyukai ini: