4 Film Indonesia Super Mahal Namun Sepi Penonton

Selama ini sudah tidak terhitung lagi banyaknya film yang diproduksi, khususnya di Indonesia. Dari banyaknya film yang ada, tidak semua film ramai peminat. Repotnya ada pula film Indonesia yang biaya produksinya mahal bernasib sepi penonton.

Ada beberapa faktor yang membuat sebuah film banyak penonton. Dimulai dari aktris maupun aktor yang membintangi film tersebut, sampai jalan cerita yang bagus.

Tapi memang tidak bisa dipungkiri jika dalam pembuatan film, harus memperhatikan biaya produksi yang berjumlah sangat banyak. Semua itu demi melengkapi kebutuhan pemain, logistik, visual, hingga promosi yang maksimal.

Akumulasi yang semacam itu, akhirnya membuat biaya produksi sebuah film dapat meledak. Oleh karena itu, sineas serta produser harus benar-benar efisien dalam mengeluarkan biaya.

Sebab selama ini ada beberapa film Indonesia, yang justru mengeluarkan banyak biaya, namun film tersebut justru sepi penonton. Budget besar tidak bisa menjamin banyaknya penonton.

Berikut ini beberapa film Indonesia dengan budget selangit, namun sepi penonton:

Pendekar Tongkat Emas (2014)

Film ini sempat dipromosikan secara internasional dengan judul The Golden Cane Warrior. Meski dibintangi oleh bintang papan atas seperti Nicolas Saputra, Reza Rahadian, Tara Basro, hingga Christine Hakim, namun film ini belum bisa menarik banyak penonton.

Tidak hanya itu, film ini juga telah menelan uang yang tidak sedikit untuk biaya produksi. Setidaknya, total Rp 25 miliar uang telah dihabiskan untuk pembuatan film kolosal tersebut.

Sayangnya, hal tersebut sama sekali tidak berdampak lurus dengan jumlah penonton yang datang ke bioskop. Film tersebut hanya ditonton tidak lebih dari 300 ribu orang.

Street Society (2014)

Sebelum tayang, film ini digadang-gadang akan menjadi salah satu film yang sukses di bioskop Tanah Air. Persepsi tersebut muncul karena jalan cerita film yang keren.

Namun ironisnya, film ini justru hanya menarik sedikit penonton di bioskop. Street Society hanya dilihat oleh 300 ribu penonton saja.

Film ini menggelontorkan uang sebesar Rp 10 miliar untuk biaya produksi. Tentu uang sebanyak itu bukan dana yang sedikit untuk produksi sebuah film.

Rupanya, biaya yang membengkak ini disebabkan karena pihak produksi menyewa properti-properti supermewah. Maka tidak heran jika biaya produksi bisa melambung sedemikian rupa.

[irp posts=”64369″ name=”Inilah 4 Film Lokal yang Diprediksi Akan Viral di Tahun 2019″]

Rafathar (2017)

Kalian tentu tahu jika film ini sempat digadang-gadang akan laris manis di bioskop Indonesia bukan? Yup, ini adalah sebuah film yang menceritakan anak kecil bernama Rafathar, putra dari Raffi Ahmad dan Nagita Slavina.

Film ini bisa dibilang mempunyai alur cerita yang hampir mirip dengan Baby’s Day Out (1994), namun ditampilkan dengan grafis yang lebih modern.

Sayangnya, semuanya tidak sesuai dengan ekspektasi. Sebab saat film ini dirilis di bioskop, sambutan masyarakat rupanya tidak terlalu meriah.

Film Rafathar bisa dikatakan sepi penonton. Padahal untuk biaya produksi film ini, tim produksi tidak tanggung-tanggung menggelontorkan uang sebanyak Rp 15 miliar.

Trilogi Merdeka (2009-2011)

Sebenarnya film ini dibuat menjelang perayaan Hari Kemerdekaan Indonesia: Merah Putih (2009), Darah Garuda (2010), serta Hati Merdeka (2011).

Sesuai dengan tema, film ini sekilas menggambarkan Indonesia yang tengah dijajah bangsa asing. Trilogi Merdeka merupakan film menegangkan dan penuh motivasi.

Tim produksi mengeluarkan dana sebesar Rp 64 miliar, untuk mengerjakan tiga seri film ini. Hal tersebut wajar jika kalian mengetahui deretan aktor papan atas yang membintangi film tersebut.

Lalu bagaimana dengan promosi? Film ini pernah dipromosikan sampai ke luar negeri. Namun hasilnya, film tersebut hanya mampu menarik 1,4 juta penonton dan dibagi dari tiga film.

Omong-omong, kamu sekarang bisa menonton film Indonesia berkualitas secara online melalui layanan Bioskop Online.

banner cybersport
%d blogger menyukai ini: