Inilah Deretan Film Indonesia Pertama yang Dikerjakan Sineas Luar Negeri

Tidak bisa dipungkiri bahwa seiring berjalannya waktu, film-film di Indonesia memang telah mengalami peningkatan yang cukup signifikan, baik dalam segi kualitas maupun minat penonton. Tapi tahukah kamu kalau film-film Indonesia pertama digarap oleh sineas luar negeri?

Dalam tahun 2018 lalu, setidaknya telah ada 14 film lokal yang berhasil mendapatkan lebih dari satu juta penonton. Bahkan kini sudah ada film Indonesia yang merambah luar negeri, termasuk lewat layanan online. Lalu sekarang ada pula layanan nonton film online khusus film Indonesia.

Industri perfilman di Indonesia pada era 80-an, telah banyak memproduksi film lokal seperti Blok M (1990) serta Catatan Si Boy (1987). Kedua film itu berhasil merajai layar lebar di Indonesia pada masanya. Tidak tanggung-tanggung, film tersebut bahkan sukses mengalahkan sinema impor lho.

Tapi jauh sebelum tahun itu sudah ada beberapa film, yang disebut-sebut sebagai film pertama yang diproduksi di Indonesia.

Berikut ini ada beberapa film pertama yang diproduksi di Indonesia, dan tentunya proses pengerjaannya dilakukan oleh sineas luar negeri.

Sumber Gambar : Cubicle

Lily Van Java (1928)

Ini merupakan film Indonesia pertama yang sebagain besar proses produksi dikerjakan oleh etnis Tionghoa. Dimulai dari sutradara sampai pemain semua dirancang oleh etnis Tionghoa.

Tapi sebenarnya sebelum dipegang oleh etnis Tionghoa, film ini pada awalnya disutradarai oleh orang asal Amerika Serikat bernama Len H. Roos.

Setelah itu, film ini dikerjakan oleh Nelson Wong dan menjadi populer di kalangan masyarakat Indonesia. Tidak hanya itu, Lily Van Java bahkan sampai diputar berkali-kali sampai film tersebut rusak.

Setangan Berloemoer Darah (1928)

Film ini merupakan adaptasi dari novel karya Tjoe Hong Bok yang rilis pada tahun 1927. Film tersebut menceritakan tentang seorang pemuda yang ingin balas dendam atas kematian ayahnya.

Setangan Berloemoer Darah distrudarai dan diproduksi oleh Tan Boen San. Beliau adalah seorang etnis Tionghoa yang menjadi salah satu jurnalis media Soeara Semarang. Lagi-lagi, film pertama di Indonesia dikerjakan oleh kaum Tionghoa pada waktu itu.

Rampok Preanger (1929)

Setelah menuai kesuksesan dengan film Lily Van Java, Nelson Wong semakin melebarkan sayapnya dengan menggarap film di Indonesia.

Dan film selanjutnya yang dia kerjakan adalah Rampok Preanger. Film ini mengambil tema aksi, serta dibintangi sederet penyanyi keroncong dari Bandung bernama Ining Resmini.

Walau masuk dalam daftar film pertama yang diproduksi di Indonesia, namun banyak orang tidak tahu tentang film Rampok Preanger lho.

Si Tjonat (1929)

Film ini menceritakan seorang bandit yang berasal dari Sunda. Dia kabur ke Batavia setelah membunuh temannya. Ketika sampai di Jakarta, bandit bernama Si Tjonat itu jatuh cinta dengan gadis.

Gadis yang dia cintai itu keturunan Tionghoa dan bernama Lie Gouw Nio. Film ini disutradarai oleh Nelson Wong, dan diadaptasi dari novel karya F.D.J. Pangemanan.

Honorable Mention: Darah dan Doa (1950)

Berbeda dengan film-film sebelumnya, Darah dan Doa menjadi salah satu film Indonesia pertama yang seluruh proses produksi dikerjakan oleh keturunan Pribumi.

Film besutan Usmar Ismail ini menceritakan tentang percintaan pejuang Indonesia dengan seorang wanita Belanda. Wanita Belanda tersebut menjadi tahanan.

Bisa dibilang jika film ini menjadi titik paling bersejarah bagi dunia perfilman Indonesia. Karena hari syuting pertama Darah dan Doa dinobatkan sebagai Hari Film Nasional yang diperingati setiap 30 Maret.

Loetoeng Kasaroeng (1926)

Film ini disutradarai oleh seniman asal Belanda bernama L. Heuveldorp. Loetoeng Kasaroeng menjadi film pertama yang diproduksi di Hindia Belanda, bahkan jauh sebelum terciptanya nama Indonesia.

Film ini menceritakan tentang β€˜Si Lutung yang Tersesat’, yang sebelumnya memang telah populer di kalangan masyarakat Sunda. Walaupun diproduksi oleh orang Belanda, namun sebagian besar pemaran film berasal dari Indonesia.

%d blogger menyukai ini: