Sebuah Koalisi Lahir Untuk Lawan Monopoli App Store Apple

Berbagai perusahaan pembuat layanan dan aplikasi bergabung dalam sebuah koalisi untuk lawan aturan tangan besi App Store milik Apple. Hal ini menjadi babak baru dalam drama tarif App Store yang sebelumnya berjalan seru.

Koalisi untuk Kesetaraan Aplikasi

Koalisi itu bernama “Coalition for App Fairness“. Organisasi yang bergabung untuk mendirikan koalisi ini adalah Basecamp, Blix, Blockchain.com, deezer, Epic Games, Euro Publisher Council, Match Group, News Media Europe, prepear, ProtonMail, SkyDemon, Spotify, dan Tile.

perusahaan yang lawan monopili app store milik apple

Koalisi ini menganggap Apple menjalankan App Store dengan tidak adil. Ada tiga poin utama yang mereka anggap merupakan masalah utama.

  1. Apple melalui sistem operasi iOS mengunggulkan diri sendiri dengan mengontrol produk dan fitur yang ada untuk konsumen. Apple memaksa pihak produsen (penerbit aplikasi) untuk menjual melalui App Store dan bahkan mencuri ide mereka.
  2. Apple mengutip tarif 30% dari harga penjualan. Tarif ini terlalu besar dan tidak adil mengingat aplikasi pihak ketiga jadi memiliki harga lebih mahal dari seharusnya. Dari sisi harga, akhirnya tidak mampu menyaingi produk sejenis dari Apple.
  3. Konsumen tidak memiliki kebebasan. Apple memaksa pembuat aplikasi dan konsumen melakukan transaksi di App Store, tanpa ada pilihan bursa aplikasi lain.

Apple menjadi target utama koalisi ini, karena memang kita tidak bisa mengunduh dan memasang aplikasi dari bursa aplikasi lain. Kalau kita membandingkan dengan Android, pengguna masih bisa mengunduh dan memasang aplikasi dari sumber lain, baik dari bursa aplikasi lain maupun dari situs resmi aplikasi bersangkutan.

Para pendiri koalisi ini sebelumnya sudah punya masalah masing-masing dengan Apple. Basecamp, misalnya, mendapat kesulitan dalam publikasi layanan email Hey. Tapi tentu saja, Epic Games-lah yang paling terkenal mengajukan kapak perang pada Apple setelah mereka membuat alternatif pembelian dalam game Fortnite.

Apple Tunjukkan Keuntungan Pakai App Store

Di sisi lain, Apple pun menunjukkan keuntungan penerbit aplikasi dan layanan dalam menggunakan App Store. Hal ini muncul di halaman untuk pengembang aplikasi mereka.

Apple menekankan bahwa dengan memakai App Store, pengembang akan menerbitkan aplikasi dan layanan mereka dalam 1 ekosistem, mencapai 5 platform, punya dukungan 40 bahasa dan 175 wilayah, mencapai 500 juta pengunjung tiap minggu dan 1,5 milyar perangkat Apple.

Apple juga menekankan sisi keamanan, berbagai pilihan model bisnis, analisis, berbagai fitur di perangkat, mendapat panduan dan promosi.

Ambisius Tapi Sulit

Tujuan yang hendak diraih oleh koalisi ini memang ambisius. Tapi jelas sulit untuk tercapai. Karena ironisnya, seperti disebut oleh The Verge, walau tiap perusahaan memprotes tangan besi Apple, sebagian besar masih merilis aplikasi mereka di App Store.

Kalau mereka berhenti merilis aplikasi di App Store, tidak menutup kemungkinan kalau Apple sendiri membuat layanan serupa. Beberapa layanan itu pun sudah menjadi pesaing Apple. Misalnya Spotify (bersaing dengan Apple Music) atau Hey dari Basecamp (bersaing dengan Apple Mail).

Beberapa lainnya juga menghadapi permasalahan yang tidak jauh berbeda. Misalnya, ketika Fortnite tidak tersedia lagi di App Store, Apple mempromosikan PUBG Mobile.

Mungkin hal paling penting pada masalah App Store ini adalah konsumen atau pengguna perangkat Apple lebih mudah melakukan pembelian daripada di Android (yang lebih banyak memakai aplikasi gratis). Artinya, kalau pembuat aplikasi tidak merilis aplikasi mereka di App Store, mereka akan kehilangan pelanggan dan pendapatan.

%d blogger menyukai ini: