Flash Sale Toko Online Hasilkan Kekecewaan Konsumen

flash sale online
Anom Penulis

Flash sale menjadi salah satu fenomena menarik akhir-akhir ini. Ternyata, gegap gempita promo smartphone di toko online membawa kekecewaan. Kenapa bisa demikian?

Ketika flash sale tiba, dalam periode tertentu konsumen memiliki kesempatan untuk mendapatkan keuntungan lebih ketika membeli handphone impian. Biasanya, harga yang lebih murah menjadi janji manisnya.

Yah, siapa sih yang tidak ingin mendapat harga murah? Semua tentu saja menginginkannya. Tidak heran orang-orang berlomba mengejarnya. Sayangnya, seringkali keinginan itu tidak tercapai.

Protes Flash Sale di Media Sosial

Salah satu kekecewaan yang terungkap di media sosial adalah barang yang dijanjikan terlalu cepat laku terjual sampai terasa tidak wajar. Ada konsumen yang sudah memasukkan produk ke keranjang belanja terkejut karena produk yang bersangkutan tiba-tiba hilang.

Lihat saja keluhan di Twitter untuk flash sale ASUS ZenFone Max Pro M1, yang berjalan pada tanggal 8, 15, 22, dan 29 Mei 2018 di Lazada.

Kejadian yang serupa juga terjadi pada flash sale Xiaomi Redmi 5A pada tanggal 3 Januari 2018 di Lazada. Walau ada yang berhasil, tidak sedikit yang mengeluh terjadi kesalahan ketika proses pembayaran berlangsung. Lalu ada juga yang tidak bisa dikirim ke alamat tujuan.

Kemudian ada juga yang mengalami kasus produk yang sudah dibeli dibawa kabur kurir. Hal ini rata-rata terjadi pada mereka yang melakukan metode pembayaran COD (Cash on Delivery).

Kalau ingin mencari, kita akan banyak menemui kisah serupa. Bahkan tidak hanya di media sosial saja. Di bagian testimoni atau tanya-jawab di halaman resmi toko online pun bertebaran kekecewaan yang sama.

[irp posts=”42860″ name=”Tips Membeli Handphone Android Supaya Tidak Kecewa”]

Apakah Flash Sale Langkah Tepat?

Supaya lebih obyektif, ada banyak konsumen yang berhasil melakukan pembelian. Ada yang langsung berhasil, ada juga yang harus melalui perjuangan. Di samping hujatan, ada pula pujian muncul di media sosial dan testimoni toko online.

Bagaimana soal kendala ketika hendak melakukan pembayaran? Yah, bayangkan sekian banyak orang mengakses halaman yang sama di saat yang sama. Beban yang berat. Bahkan perusahaan raksasa seperti Apple dan Microsoft pun pernah mengalaminya.

Lalu bayangkan juga. Misalnya ada 10.000 orang mau membeli 500 handphone di saat yang sama. Tentu saja, tiap orang akan mendapat kesempatan yang lebih kecil. Walau berbeda, ini seperti efek bottleneck di teori evolusi.

bottleneck event

Memang, sewajarnya, pihak toko online sudah mempersiapkan hal itu. Paling tidak, sistem melakukan kalkulasi jumlah barang dan menyimpan catatan ketika satu barang sudah masuk keranjang. Tapi sekali lagi, akses gila-gilaan itu bisa menyebabkan kesalahan muncul.

Sedangkan untuk tudingan pada orang yang membeli handphone untuk dijual lagi, yah kembali lagi, mencari kesempatan untuk mendapat untung itu wajar. Yang tidak wajar itu adalah harga yang kemudian jadi selangit.

Nah, kalau mau dipikir dengan tenang, kita bisa ingat hukum permintaan di ekonomi. Ada kuantitas (jumlah) barang, ada permintaan. Jumlah barang sedikit dan permintaan banyak akan membuat harga naik. Sedangkan jumlah barang banyak dan permintaan sedikit, bisa membuat harga turun.

hubungan permintaan dan harga

Jadi apabila harga sudah naik — tidak seperti yang dijanjikan — ya silakan nilai sendiri. Seberapa tinggi harga naik? Layak tidak dibeli?

Lalu apa kamu benar-benar ngebet sama handphone itu? Untuk apa?

Kalau untuk dijual lagi (untuk dapat untung besar) dan kamu mengeluh, ya percuma. Itu namanya persaingan. Kalau kamu memang membutuhkan handphone untuk diri sendiri, kenapa tidak menunggu sampai harga menjadi wajar atau ketika tersedia offline? Selain itu, kamu toh bisa memilih handphone yang lain.

shut up and take my money meme

Soal barang yang ditilep kurir toko online, yah ini jelas salah dan tidak profesional. Sayangnya mencari bukti kongkrit soal ini juga cukup sulit. Apakah ada identitas kurir yang sah? Kalau ada, apakah melaporkannya pada toko online atau perusahaan penyedia layanan kurir bersangkutan bisa memberi pengaruh? Entah.

Mungkin yang perlu memikirkan hal ini bukan hanya konsumen saja. Produsen handphone dan toko online pun layak memikirkan apakah flash sale merupakan langkah tepat. Kalau semakin sering terjadi masalah seperti ini, kepercayaan masyarakat (konsumen) bisa menurun. Itu bisa berimbas pada citra produsen handphone dan toko online.

…atau mereka memang tidak peduli selama barang laku.

Fenomena flash sale di toko online memang semakin marak. Dengan kontroversi seperti ini, mungkin kita harus lebih berkepala dingin. Silakan coba ikuti, tapi jangan terbawa emosi. Kalau tidak dapat, tunggu saja sampai semua menjadi wajar. Daripada makan ati dan pusing pala berbi.

Dengerin Urbanpodcast-nya juga

Listen to “Flash Sale: Merugikan End Users?” on Spreaker.

    %d blogger menyukai ini: