Disket: Media Penyimpanan Yang Rentan - #ThrowbackThursday

kotak disket 5 1/4 inci

Disket mungkin sudah bisa dianggap sebagai fosil teknologi. Sulit nampaknya membayangkan bagaimana media penyimpanan sekecil dan seringkih ini bisa berguna di kehidupan sehari-hari. Namun, saat itu dunia teknologi memang masih berada di ambang pagi. Teknologi yang ada saat ini pun baru sebatas imajinasi di layar TV.

Kala itu komputer memang ibarat Pikachu di Pokemon GO. Terhitung jarang dimiliki secara umum. Baru pada awal tahun 90-an lah komputer mulai banyak ditemui.

Di awal kehadiran komputer itu, disket merupakan media penyimpanan data portabel yang lazim dipakai. Sebenarnya ada tiga jenis yang paling populer. Disket 8 inci, 5¼ inci, dan 3½ inci. Namun hanya dua terakhir yang sering dipakai di Indonesia.

disket 5,25 inci dan 3,5 inci

Disket 5,25 inci dan 3,5 inci (foto:Universitas Princeton)

Dua jenis disket ini juga menjadi alasan kenapa sistem di komputer Windows jaman sekarang menggunakan Drive C. Silakan saja cek File Explorer dan lihat label untuk System.

Disket (diskette) merupakan istilah lain untuk floppy disk. Sedangkan perangkat di komputer yang memprosesnya disebut floppy disk drive (FDD). Nah, sebelum hard disk drive (HDD) menjadi standar penyimpanan, FDD-lah yang jadi media utama.

Jadi, sistem saat itu memberi label Drive A untuk FDD yang membaca disket 5¼ inci dan Drive B untuk FDD yang membaca disket 3½ inci. Lalu ketika HDD mulai dipakai, sistem meletakkannya sebagai yang ketiga, yaitu Drive C. Logis kan?

Berbeda dengan HDD yang merupakan media penyimpanan internal, FDD merupakan media eksternal. Jadi lebih mirip CD atau DVD. Harus dimasukkan dulu, baru terbaca.

komputer jaman dulu

Komputer jaman dulu (drive A di atas, drive B di bawahnya)

Terus terang, sebagai media penyimpanan, disket merupakan benda yang rentan. Apalagi yang berukuran 5¼ inci. Begitu mudah rusak sampai Voldemort pun tidak akan terpikir untuk memakainya sebagai Horcrux.

Pada dasarnya, floppy disk merupakan selembar cakram magnetis tipis yang terbungkus plastik (versi 5¼ inci lebih tipis dari versi 3½ inci). Sedikit melengkung, terkena panas, atau senggolan dengan medan magnet bisa langsung membuat benda ini tidak berguna.

Ditambah lagi dengan kapasitas penyimpanan yang kecil. Saya lupa berapa tepatnya kapasitas disket 5¼ inci. Wikipedia menyebutkan kapasitas yang lazim untuk jenis itu adalah 360KB. Sedangkan versi 3½ inci memiliki kapasitas 1,44MB.

Jadi bayangkan. Kamu pergi membeli sebuah game. Anggaplah Digger. Dalam perjalanan, tidak sengaja disket 5¼ inci itu tersenggol sampai sedikit melengkung. Bisa jadi ketika sampai rumah game itu sudah tidak bisa kamu mainkan.

Contoh lain, kamu menyimpan berkas sebesar 5MB dari komputer teman. Berkas itu kamu bagi menjadi 4 bagian di 4 disket 3½ inci secara terpisah untuk digabung lagi nantinya. Sampai di rumah, salah satunya rusak. Kamu pun harus membeli yang baru dan mengulang proses dari awal. Ah, pusing.

game doom 2 di disket

Game Doom 2 di 5 buah floppy disk (foto: PC Gamer)

Toh sebagai sebuah relik, media penyimpanan jaman dulu ini juga punya kisah istimewa.

Pada tahun 2016, New York Post melaporkan kalau Amerika Serikat masih menggunakan floppy disk 8 inci di komputer IBM tahun 1970-an sebagai media transfer data di Strategic Automated Command and Control System milik Departemen Pertahanan.

Pada tahun 2017, PC Gamer melaporkan bahwa game Doom 2 asli dalam 5 buah floppy disk 3½ inci berhasil terjual dengan nilai US $3150.

Luar biasa bukan? Bayangkan kalau ada yang iseng menempelkan magnet di salah satu disket di atas. Pasti jadi masalah besar. 😁

Untuk itulah, saat ini saya mau mengajak teman-teman sekalian menundukkan wajah sejenak. Mensyukuri perkembangan teknologi yang begitu dahsyat. Saat ini kita sudah tidak perlu bersusah payah lagi menyimpan atau memindah data. Sebagai bahan renungan, berapa banyak disket yang dibutuhkan untuk memasang game PUBG?

Ada komentar?