Film Termahal Cina, Asura, Ditarik Dari Peredaran Untuk Mendapat Update

poster film asura dari cina
Anom Penulis

Ternyata saat ini update tidak hanya berlaku untuk aplikasi saja. Sistem ini pun mulai hadir di bidang lain. Film Asura, yang menjadi film termahal produksi Cina, ditarik dari peredaran setelah gagal mencapai target. Sumber menyebutkan kalau film itu akan mendapat perubahan dan kemudian dirilis ulang.

Asura merupakan proyek film ambisius CIna. Film ini diproduksi dengan dana sekitar $100 juta. Dibalik produksi ini berdiri nama-nama besar. Seperti Jack Ma (bos Alibaba Pictures) sebagai salah satu produser, Ngila Dickson (pemenang Oscar untuk Lord of The Rings) sebagai perancang kostum, Martin Hernandez (The Revenant, Birdman) sebagai pengarah audio, juga Charlie Iturriaga (Deadpool, Furious 7) yang mengawasi efek visual. Belum lagi dari sisi pemeran, seperti Lei Wu yang baru naik daun, Tony Leung, dan Carina Lau.

Sayangnya, saat film itu diluncurkan, pendapatan di minggu pertama tidak seperti ambisi semula. Film ini hanya berhasil meraih $7,1 juta. Sulit untuk bisa melebihi modal besar produksi.

[irp posts=”52485″ name=”10 Film Korea Terbaik, Populer, dan Perlu Kamu Tonton”]

90% tiket dibeli melalui dua layanan tiket online terbesar Cina, Tiao PiaoPiao (milik Alibaba) dan Maoyan (layanan yang didukung oleh Tencent). Selain melayani pembelian tiket online, kedua layanan itu juga menampilkan rating film. Rating yang ada di kedua layanan itu β€” ditambah dari agregator rating film lain, douban.com β€” menunjukkan kontroversi tersendiri.

Para produser film Asura menuding bahwa ada banyak rating dan review dari akun palsu. Banyak rating buruk (1/10) muncul di antara rata-rata rating (4,9/10) di Maoyan. Juga muncul fenomena sama setelah Tiao PiaoPiao menampilkan rating awal (8,4/10). Fenomena rating seperti ini juga pernah muncul di Amerika, tepatnya di situs Rotten Tomatoes dan Metacritic.

cuplikan film Asura
Film Asura (foto: GeekTyrant)

Sebenarnya masalah rating hanyalah sebagian dari petaka Asura. Layanan tiket online disebut hanya memberi kontribusi 40% dari pemasukan tiket. Kalau sebagian besar tiket dibeli lewat online, bisa dibayangkan sedikitnya peminat film ini (dibanding warga negara Cina).

Kalau mau dimaklumi, hal ini terjadi karena film Asura dirilis di tengah pemutaran film lain yang sukses, yaitu Dying to Survive dan Hidden Man.

Nah, yang paling menarik dari kejadian ini, perwakilan dari Zhenjian Film (yang memproduksi Asura) menyebutkan bahwa film Asura ditarik dari peredaran bukan hanya box office yang buruk. Mereka ingin membuat perubahan dan merilisnya lagi kemudian.

This decision was made not only because of the bad box office. We plan to make some changes to the film and release it again.

Hm, jadi seperti aplikasi dan game? Ada perbaikan dan optimalisasi? Ada patch baru?

Sebelum ini, fenomena update juga muncul di album terbaru Drake yang berjudul Scorpion. Di album itu juga muncul perbaikan rekaman dan penambahan beberapa lagu baru.

Toh untuk album musik mungkin hal itu bisa dimaklumi. Karena album terdiri dari banyak lagu independen. Apalagi sekarang sebagian besar orang mendengarnya melalui layanan online.

Namun film jelas berbeda. Film merupakan satu buah tayangan. Lalu saat ini, bioskop masih menjadi pilihan orang banyak. Jadi cukup aneh kalau sebuah film mendapat update, kemudian dirilis ulang dengan versi terbaru.

[irp posts=”42383″ name=”Website untuk Mengikuti Tren Film Box Office Terbaru”]

Memang, tidak hanya di dunia smartphone, di dunia film pun Cina sedang giat melakukan ekspansi. Beberapa contoh di antaranya adalah film Warcraft, Mission: Impossible – Rogue Nation, Star Trek Beyond, Wonder Woman, dll. Film-film itu sebagian dananya datang dari perusahaan Cina (Alibaba Pictures dan Tencent Pictures).

Jadi memang ambisi perfilman Cina cukup besar. Namun apakah menarik film Asura dan memberi update merupakan langkah tepat? Akankah cara ini juga merambah film-film lain (termasuk Hollywood)? Kelihatannya tidak.

Sumber: Hollywood Reporter

    %d blogger menyukai ini: