Zenbook 14 M3400 banner
Zenbook 14 M3400 banner
Zenbook 14 M3400 banner

ROG Fusion II 500: Headphone Gaming Dengan Output Audio Mantap

Koneksi via USB-C bebas lag

rog fusion II 500
Anom Penulis

Setelah mencicipi wireless headphone Sony WH-1000XM3, saya mendapat kesempatan menjajal headphone gaming ROG Fusion II 500 yang tidak kalah gahar. Serupa tapi tak sama.

Headphone ini merupakan jenis yang boleh kita bilang masih cukup konvensional. Karena ia masih menggunakan colokan USB-C / USB-A / 3.5 mm. Walau begitu, headphone ini juga penuh dengan fitur seru.

popculture.id

ROG Fusion II 500 menggunakan driver berukuran 50mm, memiliki headphone frequency response 20 ~ 40000 Hz dan microphone frequency response 100 ~ 10000 Hz, punya Hi-Fi DAC dan Amp ESS 9280, juga mendukung audio surround Virtual 7.1.

Tentu, sebagai bagian dari ekosistem ROG, headphone ini juga mendukung lighting dan Aura Sync RGB. Posisi lampu dibagian belakang penutup telinga ini cukup elegan. Nggak terlalu menonjol, tapi terlihat.

Lalu, headphone ini bisa kamu gunakan di berbagai platform. Meliputi: PC, Mac, PlayStation® 4, PlayStation® 5, Nintendo Switch, Xbox one, Xbox Series X, Xbox Series S, juga iPad. Pastinya, kamu juga bisa memakainya di ponsel ROG Phone.

Jadi, inilah pengalaman saya memakai headphone gaming ini.

Apa ROG Fusion II 500 Enak Dipakai?

Ini menarik. Sebagai jenis headphone over-ear, lingkar penutup telinga headphone ini sedikit lebih besar dari punya Sony. Paling tidak di telinga saya tidak benar-benar pas atau mepet, tapi ada sedikit ruang lebih.

ROG Fusion II 500 bagai sepatu untuk hiking, punya ruang untuk aktivitas berat

Jadi headphone ini sedikit lebih lega dan nyaman ketika dipakai. Bantalan telinga yang terbungkus bahan kulit halus juga nyaman dikenakan. Sesuatu yang agak mengejutkan, karena saya suka dengan feel dari headphone Sony.

Mungkin jika harus menggunakan analogi, Sony WH-1000XM3 seperti sepatu untuk sprint. Sementara ROG Fusion II 500 bagai sepatu untuk hiking, punya ruang untuk aktivitas berat.

Nah, dari sisi mobilitas, dalam satu sisi—seperti untuk mendengarkan musik on the go—headphone ini kurang ideal karena masih memakai kabel. Yah, namanya juga headphone gaming. 😛

Tapi di sisi lain, karena masih menggunakan kabel, suara tetap berjalan mulus. Tanpa kuatir ada gangguan kendala teknis dari koneksi Bluetooth. Misalnya lag atau putus-putus.

Lalu, kamu juga tidak perlu kuatir dengan masalah baterai. Yah, namanya juga pakai kabel. Begitu kita colok ya langsung aktif. Simpel.

ROG Fusion II 500 memiliki tuas dan roda kontrol di penutup kuping. Ini juga menarik. ASUS boleh diacungi jempol untuk kontrol yang lengkap dengan tombol yang efisien.

headphone gaming rog fusion II 500

Di sebelah kiri, ada tuas mikrofon on/off dan roda volume (mengatur suara di perangkat). Tapi roda volume juga berfungsi sebagai on/off fitur surround 7.1 jika kita tekan (bukan geser).

Sedangkan di sebelah kanan, ada tuas untuk memilih PC atau konsol (smartphone terhitung PC) dan juga ada roda kontrol volume. Roda volume ini berfungsi untuk mengatur chat.

Jika kamu geser ke atas mentok, maka suara percakapan akan hadir seutuhnya. Jika berada di tengah maka seimbang antara percakapan dan game. Sementara jika mentok ke bawah hanya akan menampilkan suara game.

Yah, tombol-tombol ini menurut saya sangat user friendly dan mudah kita operasikan jika sudah mengetahui fungsinya.

Bagaimana dengan Suaranya?

Soal suara juga tidak kalah menarik jika dibandingkan masalah desain dan konstruksi di atas. Saya kebanyakan menggunakan headphone ini bersama ponsel ROG Phone orisinal (generasi 1).

Terus terang, saya membutuhkan sedikit waktu sampai saya menemukan setelan audio yang pas sesuai selera saya. Hal ini selalu saya lakukan, termasuk pakai ROG Cetra II dengan ASUS Vivobook Pro 16X OLED.

Menariknya, ROG Phone punya setelan profil headphone dan tes pendengaran untuk mengatur kualitas DTS sesuai telinga kita. Selain mengatur setelan DTS itu, saya juga mengatur custom equalizer.

Baik headphone Sony atau ROG sama-sama jempolan memvisualkan audio surround atau bahkan spatial (walau tanpa head tracking). Tapi headphone ROG menghadirkan karakteristik suara lebih ‘roomy’ atau berkesan lebih punya ruang.

Kemudian, secara mengejutkan, dentuman bass-nya juga lebih ‘punchy’ untuk lagu dance atau elektronik. Seperti untuk mendengar “Popcorn / Sweet Nothing (feat. Florence Welch)” dari Steve Aoki (Tomorrowland Winter).

Selain itu headphone ini juga mampu mengantarkan alur bass yang ‘groovy’ seperti di lagu “Get Lucky (feat. Pharrell Williams & Nile Rodgers)” atau “Giorgio by Moroder” dari Daft Punk. Alur bass tetap terdengar tanpa kesan bergemuruh.

Nah, untuk main game, headset ROG ini juga menunjukkan kelebihannya.

Misalnya untuk main game adventure RPG seperti “Diablo Immortal.” Efek suara—seperti skill—terdengar mantap, sementara suara percakapan tokoh dalam game terdengar jernih. Detil-detil suara yang membangun nuansa pun terdengar di sana sini membuat permainan lebih hidup.

Begitupun saat saya pakai untuk main game kompetitif. Suara surround 7.1 memberikan suasana saya berada di tengah pertempuran. Jika game juga mendukung spatial audio (seperti Shadow of the Tomb Raider), maka pengalaman bermain bisa lebih imersif lagi. Suara tertentu bisa hadir dalam posisi tertentu.

Tapi ada sedikit catatan untuk mikrofon yang ada di headphone ini. Secara umum, mikrofon berfungsi cukup baik. Hanya saja selama tidak ada suara lain yang terlalu mengganggu (terlalu keras) dari luar.

Jika suara dari luar tidak terlalu keras, fitur AI Beamforming dengan AI Noise Cancelation bisa berfungsi baik. Namun jika terlalu keras, sayangnya suaramu tetap bisa tenggelam dan terdengar agak aneh.

Mungkin ini lebih berhubungan dengan teknologi AI yang bersangkutan, bukan semata kualitas mikrofon itu sendiri.

Jadi Apa Layak Beli?

Singkat kata, ya. Jawaban yang agak panjang, ROG Fusion II 500 sangat layak kamu pertimbangkan jika kamu mencari headphone over-ear untuk mendengarkan hiburan dan main game. Terutama kalau kamu lebih suka headphone dengan kabel, untuk kebutuhan audio tanpa mobilitas tinggi dan stabilitas suara yang lebih baik.

Dari sisi fungsi output (mendengar), headphone ini punya kualitas yang boleh dipuji. Apalagi kalau kamu bisa megatur setelan audio dengan tepat. Sayangnya, fungsi input (mikrofon)—walau cukup baik—masih belum sebaik yang saya bayangkan. Terutama berhubungan dengan teknologi noise cancelation yang memanfaatkan AI.

Mungkin jika kamu benar-benar serius sebagai konten kreator, kamu tetap harus mempertimbangkan headset dengan tangkai mikrofon khusus. Tapi kalau kamu sekedar penikmat hiburan atau konten kreator kasual di lingkungan yang tidak terlalu ramai, sekali lagi, headphone ini layak kamu pertimbangkan.

    %d blogger menyukai ini: