Moto Z: Masih Menggiurkan Setelah Setahun Berlalu

Moto Z promo
Motorola

Ya, Mas Afit memang sudah menulis review Moto Z. Tapi saya pikir tidak ada salahnya saya memberi opini tambahan tentang smartphone flagship Motorola ini.

Handphone yang mampir ke pangkuan saya ini Moto Z keluaran 2016 lalu. Bukan Moto Z2 yang lebih baru. Motorola (Lenovo) mengumumkan Moto Z pada bulan Juni 2016, dan memasarkannya mulai September 2016.

Mungkin hal ini kurang memuaskan rasa ingin tahu teman-teman akan produk terbaru. Di sisi lain, bersama-sama kita bisa melihat apakah handphone flagship ini masih relevan atau tidak.

[junkie-toggle title=”Daftar Isi” state=”closed”]

  1. Desain dan Hands-on
  2. Layar, Fitur, dan Performa
  3. Kamera
  4. Kesimpulan

[/junkie-toggle]

Desain dan Hands-on Moto Z

Terus terang melihat dan memegang langsung handphone ini tidak seperti apa yang saya bayangkan sebelumnya (saat melihat foto). Saya akan bicara cukup panjang soal ini.

Moto Z mengangkat konsep modular — mungkin lebih tepat semi-modular — dengan Moto Mods. Konsep tersebut membuat handphone ini hadir dalam beberapa bagian saat keluar dari kotak. Bagian pertama adalah bodi handphone itu sendiri, kedua adalah Moto Shell, dan ketiga adalah frame pelindung.

Desain

Kesan pertama, Moto Z terlihat tipis. Tapi cukup terlihat biasa. Terutama kalau melihat gaya handphone flagship masa kini.

Menurut saya, “wajahnya” agak terlalu ramai dengan banyak elemen di depan. Ada kamera depan, speaker, lampu flash, fingerprint scanner, dan sensor infra red (kita akan bicara soal ini nanti). Lebih berkesan nerdy daripada elegan.

moto z depan

Bagian depan Moto Z

Sebenarnya bukan masalah banyak fiturnya, tapi lebih karena yang ada di tangan saya ini handphone berwarna putih. Jadi elemen tersebut terlihat kontras. Moto Z warna hitam terlihat jauh lebih elegan. Silakan lihat yang diuji Mas Afit.

Selain itu, fingerprint scanner berbentuk kotak yang ada di bagian depan bawah juga nampak kurang pas. Terlihat canggung dengan elemen lain yang melengkung atau membundar. Untungnya desain tombol itu berubah pada Moto Z2.

moto z belakang

Bagian belakang Moto Z

Tanpa Moto Shell, bagian belakang Moto Z yang saya pegang ini berwarna emas. Ada tonjolan kamera yang cukup besar (satu lensa, dual LED flash), dan ada 16 pin emas sebagai konektor dengan Moto Mods. Secara tampilan, terus terang saya masih kurang terkesan.

Desain Moto Shell yang menutup bagian belakang juga kurang menarik. Saya pikir, aksesoris bawaan akan lebih baik kalau polos saja. Kalau mau bermain pola atau tekstur, Blackberry Bold dengan cover belakang hitam polos dan tekstur kulit bisa jadi contoh yang bagus.

tonjolan kamera Moto Z

Tonjolan kamera Moto Z tertutup Moto Shell

Sedangkan di sisi-sisinya, di bagian atas ada  satu slot untuk dua SIM card, di samping ada tombol volume dan power (di sisi lain kosong), dan di bawah ada colokan USB type-C. Ya, tanpa colokan audio 3,5 mm.

Lalu, bagaimana dengan bodinya? Yah, terbuat dari metal dan kaca, Moto Z punya bodi yang mantap. Tipis tapi solid.

Walau begitu, melihat bagian lain, saya menangkap kesan ribet. Harus bongkar pasang dan mudah lepas. Seberapa kuat sih Moto Shell yang hanya menempel dengan magnet?

Hands-on

Harus saya akui, kesan itu kemudian runtuh.

Saat semua menyatu, Moto Z tampak seperti handphone lainnya. Tidak ada kesan “bongkar pasang” dan terasa solid dipegang.

Kamu bisa merasakan “bobot” premium saat memegang handphone ini. Menyapu jari di layarnya juga terasa berbeda. Heh, susah menggambarkannya. Kamu harus merasakannya sendiri.

Tapi ada beberapa hal kecil yang bisa jadi catatan, dan layak diperhatikan.

Mari saya jelaskan sedikit. Kalau kamu memegang Moto Z tanpa Moto Shell, kamu akan merasakan sudut pinggir bodi bagian belakang. Bagian depan lebih melengkung.

Dengan Moto Shell, Moto Z terasa lebih nyaman di genggaman tangan. Tidak ada sudut di bagian belakang yang mengganggu dan terasa lebih natural. Hebatnya, cover belakang ini menempel dengan kuat, tidak jatuh saat digoyang-goyang dengan keras. Solid.

Lucunya, begitu kamu memasang Moto Shell, sudut di bagian depan jadi lebih terasa. Namun di sinilah frame pelindung memainkan peranan. Begitu terpasang, tidak ada sudut yang mengganggu.

moto z dengan frame

Moto Z dengan frame

Frame pelindungnya, selain menahan benturan, juga memberi jarak antara layar dengan permukaan saat handphone diletakkan dalam posisi menghadap ke bawah. Sebagai bonus, frame ini juga memberi ilusi bingkai layar yang lebih tipis.

Oya, tanpa frame pelindung handphone ini cukup licin digenggam. Dengan frame, kelicinan itu berkurang jauh.

Kelihatannya memang semua bagian ini harus dipasang semua. Begitu menjadi satu keutuhan, kamu akan melihat bahwa handphone ini nyaman digunakan.

Jadi walaupun saya kurang terkesan dengan desain tampilannya (khususnya yang warna putih ini), saya cukup puas dengan hands-on Moto Z. Yang warna hitam mungkin akan memberi kesan berbeda.

Layar, Performa dan Fitur Moto Z

Mari kita lihat beberapa elemen lain yang bisa membedakan antara handphone flagship dengan handphone biasa. Termasuk bagaimana penggunaannya sehari-hari.

Layar

Seperti layaknya sebuah handphone flagship, Moto Z memiliki layar yang memuaskan. Besarnya 5,5 inci. Cukup lega dilihat.

Layar AMOLED 1440 x 2560 pixels dengan kerapatan piksel ~535 ppi menjamin gambar yang tajam dan kontras yang bagus (warna hitam benar-benar kelam). Sedangkan Corning Gorilla Glass 4 memberikan perlindungan handal.

layar moto z tajam

Layar Moto Z memuaskan

Secara umum layar Moto Z memuaskan. Gambarnya mantap dan tajam.

Salah satu masalah kecil yang saya hadapi dengan layar adalah sensor cahaya yang cukup sensitif. Kita tahu bahwa sensor cahaya ini akan menyesuaikan gelap terang layar terhadap kondisi sekitar.

Saat pilihan sensor ini aktif, layar Moto Z bisa berubah cukup cepat dan cukup drastis. Kadang hal ini mengganggu. Misalnya saat seru main game dan posisi handphone berubah, layar jadi lebih gelap. Di saat mata kita terbiasa dengan layar terang dan itu berubah, penyesuaiannya cukup mengganggu.

Performa

Bicara soal main game, menggunakan handphone flagship memang menyenangkan. Karena, yah, semuanya bisa berjalan dengan lancar.

Smartphone ini memiliki spesifikasi yang sesuai dengan jamannya. Prosesor Qualcomm Snapdragon 820, RAM 4GB, dan internal memory 64GB. Kombinasi ini memberikan keleluasaan dalam menikmati aplikasi dan game.

Sebagai sedikit ilustrasi, saya beberapa kali bermain Battle Bay sambil merekam aksi layar dengan aplikasi Mobizen. Melakukan hal itu tidak mengurangi kenikmatan bermain. Kalau ada lag, itu terjadi karena gangguan koneksi (Battle Bay adalah real-time MOBA).

Berbeda dengan handphone Moto E3 Power yang biasa saya gunakan. Di sana, bahkan dengan resolusi setengahnya pun hasil rekaman menunjukkan adegan patah-patah.

status baterai moto z

Status baterai Moto Z (habis main game)

Di sisi lain, saya mendapati baterai Moto Z yang 2600 mAh sangat standar. Mungkin karena terbiasa dengan Moto E3 Power yang punya spesifikasi jauh lebih sederhana dan baterai lebih besar. Pemakaian Moto Z yang punya spesifikasi lebih tinggi dan baterai lebih kecil, jadi terasa singkat.

Di samping kegiatan biasa seperti chatting, browsing, nonton YouTube, main game, dll, saya juga menggunakannya sebagai mobile hotspot. Walau pun mencukupi — terutama karena kemudahan fast charging — saya berharap handphone ini punya kapasitas baterai lebih.

Tapi sekali lagi, baterainya mencukupi (sangat mencukupi) untuk kamu gunakan sehari-hari.

Fitur

Yang perlu disebut pertama kali adalah Moto Z hadir dengan Android 6.0.1 Marshmallow. Tapi kamu bisa upgrade ke Android 7.1.1 Nougat. Handphone yang saya pegang sudah Android Nougat.

Dengan demikian, handphone ini pun sudah bisa menikmati fitur umum Android Nougat. Misalnya: Multi Windows (split screen), VR mode, setelan cepat khusus, gabungan notifikasi, dll.

Kemudian, Moto Z juga dilengkapi dengan beberapa fitur bawaan Moto.

  • Moto Actions — Menggunakan gestur untuk mengaktifkan fungsi handphone. Misalnya: memutar handphone dengan cepat untuk membuka kamera.
  • Moto Display — Menampilkan notifikasi di layar dengan fade-in/fade-out.
  • Moto Voice — Perintah dengan suara.

Beberapa aplikasi ini cukup lucu dan fungsional. Namun pada akhirnya, tidak semua saya aktifkan. Saya pikir, membuka layar dengan sidik jari sudah cukup efisien. Lalu saya bisa memilih sendiri aplikasi atau fungsi apa yang ingin saya gunakan.

multi windows android nougat

Fitur multi windows Android Nougat

Selain itu, ada beberapa fitur Moto yang cukup sensitif. Misalnya Moto Action yang menjadi pemicu Moto Display. Di sini kita bisa mendekatkan tangan di atas layar. Sensor infra merah akan mendeteksi tangan, mengaktifkan layar, dan menunjukkan notifikasi apa yang ada.

Permasalahannya, walau berguna, seringkali fitur ini aktif tidak sengaja saat handphone diletakkan di meja dan saya hendak meraih sesuatu (misalnya minum). Tapi tentu saja hal ini sangat subyektif. Toh fitur ini masih tetap saya gunakan.

Nah, lalu tentu saja ada Moto Mods. Pilihan Moto Mods yang tersedia untuk Moto Z adalah:

  • JBL Soundboost | Speaker
  • Moto Insta-Share Projector
  • Hasselblad True Zoom
  • Incipio offGRID Power Pack

Sayangnya, Moto Z yang hadir ini tidak beserta Moto Mods. Jadi saya belum punya kesempatan mencobanya.

Oya, patut saya sebut di sini kalau handphone ini menggunakan colokan USB type-C yang mendukung fast charging, dan tidak memiliki colokan audio 3,5 mm. Untuk kamu yang hobi mendengarkan musik dengan earphone biasa, bersiaplah untuk kecewa.

Kamera

Salah satu yang membedakan handphone flagship dengan handphone kelas di bawahnya adalah kamera. Bagaimana dengan kamera Moto Z?

Kamera Belakang

Kamera belakang Moto Z memiliki spesifikasi 13 MP, f/1.8, laser autofocus, OIS, dengan dual-LED (dual tone) flash. Di dalam aplikasi kameranya, terdapat fitur Professional Mode (manual), Panorama, Slow Motion, dan Video. Selain itu juga ada pilihan foto HDR, timer, dan pilihan lampu flash (off / on).

Saya mencoba kamera Moto Z dalam beberapa percobaan. Mulai dari biasa, macro (memotret obyek kecil), panning, dll. Kecuali foto panning, semua merupakan hasil foto otomatis. Tidak ada pengaturan manual.

Saya hanya menggunakan fokus manual untuk foto panning, supaya bisa mengontrol jarak fokus antara kamera dan obyek. Selebihnya juga otomatis.

Silakan klik foto untuk melihat foto ukuran asli.

moto z medium shot

Hasil foto outdoor Moto Z

moto z foto macro

Hasil foto macro Moto Z

hasil foto panning moto z

Hasil foto panning Moto Z

Untuk memotret secara umum, baik proses maupun hasilnya cukup memuaskan. Bukaan atau aperture f/1.8 berhasil menunjukkan ruang tajam sempit yang keren (atau efek bokeh menurut istilah kekinian).

Saya mendapati proses mencari fokus (dengan tap di layar) untuk benda kecil cukup sulit dilakukan. Perlu beberapa kali mencoba sampai kamera menemukan titik yang saya inginkan (sesuai tap). Secara obyektif, hal ini bisa terjadi karena layar Moto Z yang cukup licin.

Kemudian, saya juga merasa sensor cahaya kamera Moto Z agak sensitif (white balance). Sebagai contoh, waktu pengambilan antara foto outdoor dan foto panning tidak berbeda jauh (lihat gambar di atas). Paling sekitar 15-30 menit. Hanya saja saat memotret panning mendadak matahari masuk di balik awan. Hal itu cukup membuat foto langsung terlihat lebih kebiruan daripada sebelumnya yang kekuningan.

Kekuatan kamera Moto Z muncul saat memotret dengan cahaya redup (low light). Mungkin kalian tidak percaya kalau foto di bawah ini diambil di teras rumah dengan lampu mati. Hanya ada lampu agak jauh dari belakang dan dari kanan (perhatikan bayangan).

Silakan klik foto untuk melihat foto ukuran asli.

moto z low light

Foto low light Moto Z

moto z flash

Foto dengan flash

Hasil foto dengan lampu flash lebih kekuningan daripada versi low light.

Oya, jangan memakai jarak flash di lantai sebagai patokan jangkauan flash. Karena saya mengarahkan kamera agak ke bawah.

Untuk video, hasilnya pun memuaskan. Kemampuan kamera merekam video meliputi resolusi 2160p@30fps dan 1080p@60fps. Microphone juga tidak bermasalah. Cukup peka.

Kamera depan

Kamera depan Moto Z memiliki spesifikasi 5 MP, f/2.2 dengan ukuran piksel 1.4 µm.

Yang menarik, di kamera depan kita juga bisa menggunakan Professional Mode (pengaturan manual). Tapi tentu saja tidak selengkap kamera belakang. Di kamera depan, pengaturan manual yang tersedia adalah white balance, speed, ISO, dan exposure value (EV).

Sama seperti di kamera belakang, kamera depan juga dilengkapi dengan fitur HDR, timer, dan flash. Bedanya, flash di sini punya satu fitur tambahan, yaitu torch (senter). Sebagai orang yang tidak suka pakai lampu flash, buat saya torch memberikan alternatif yang baik dengan kontrol yang lebih baik pula.

moto z selfie

“But first, let me take a selfie” (difoto pakai Moto E3 Power)

Untuk kamu yang hobi selfie, kamera depan Moto Z dilengkapi dengan fitur beautify. Fitur ini akan memperhalus wajah. Kamu bisa mengatur pilihannya, apakah ingin otomatis, manual, atau tidak memakai (off).

Sensor cahaya di kamera depan juga cukup sensitif. Kali ini, perubahan tone warna tidak banyak. Tapi perubahan gelap terang cukup terasa. Walau bukaan besar mendorong kontras tinggi, menurut saya sensornya cukup efisien.

Seperti contoh foto di bawah, bagian putih dari mainan LEGO cukup keras memantulkan cahaya. Tapi ketika saya letakkan fokus di sana, kamera menyesuaikan cahaya dengan baik.

Namun, proses fokus sama seperti kamera belakang: Tidak terlalu mudah. Sampai sini, kesimpulan saya adalah layar Moto Z yang licin memang membuatnya membaca tap jari kita di bagian detil.

Silakan klik foto untuk melihat foto ukuran asli.

kamera depan moto z

Hasil kamera depan Moto Z

Untuk video kamera depan, Moto Z mendukung rekaman full HD 1080p. Secara keseluruhan hasilnya memuaskan. Tidak akan mengecewakan kamu yang suka live di Instagram atau media sosial lain.

Di video contoh di bawah ini bisa kamu lihat betapa sensitifnya sensor cahaya Moto Z.

Oya, ada satu hal lagi yang perlu disebut sehubungan dengan kamera depan. Face detector-nya juga sensitif. Saya harus bersembunyi agar lensa bisa fokus ke bagian lain.

Kesimpulan

Menutup review panjang ini, kita sampai pada pertanyaan penting. Apakah Motorola Moto Z layak untuk dibeli?

Kalau kamu mencari handphone flagship yang bisa diandalkan, ya Moto Z bisa jadi pilihan. Saya pribadi berminat ????.

Mungkin handphone ini tidak memiliki tampilan semenarik Samsung Galaxy S8 atau LG G6 yang hadir belakangan (bisa dimaklumi). Tapi untuk penggunaan sehari-hari — bahkan setelah setahun berselang — Moto Z masih sangat handal.

Terus terang, saya tidak terlalu yakin dengan fitur Moto Mods. Kelihatannya aksesoris modular itu menyasar kebutuhan yang cukup spesifik. Tapi melihat Moto Z2 masih memiliki konsep tersebut (apalagi ditambah kamera 360), nampaknya konsep modular ini berhasil menarik minat masyarakat.

Moto Z
  • Fitur
  • Desain
  • Kamera
  • Penggunaan
4.1

Kesimpulan

Walau sebagai handphone flagship penampilannya tidak istimewa, Moto Z memberikan fitur dan performa yang bisa diandalkan.

Sending
User Review
0 (0 votes)

ARTIKEL TERKAIT

Ada komentar?