Diskon VPN terbaik: Klik di sini

Review ASUS ZenFone Max Pro M2: Tetap Terjangkau, Tambah Trendy

review asus zenfone max pro m2

Di review ASUS ZenFone Max Pro M2 ini, kita bisa melihat perkembangan dari generasi sebelumnya, Max Pro M1. Sejauh ini, perkembangannya jauh lebih baik.

Seperti kita ketahui, seri Max Pro M adalah seri handphone ekonomis dari ASUS. Dengan harga terjangkau, kita bisa mendapat handphone dengan performa di atas rata-rata. Seri M1 merupakan langkah pertama ASUS dalam menggempur pangsa ini. Handphone ini sukses meraih tanggapan positif dari masyarakat. Juga mampu bersaing dengan jagonya handphone murah, Xiaomi.

ASUS ZenFone Max Pro M2 memiliki 3 varian dengan perpaduan RAM dan penyimpanan berbeda. Ada versi 3GB/32GB, versi 4GB/64GB, dan versi 6GB/64GB. Yang saya pakai adalah versi 4GB/64GB. Saya juga sudah melakukan penyesuaian sesuai kebiasaan saya, yaitu dengan Nova Launcher.

Desain

asus zenfone max pro m2
Tampilan depan dan belakang

Bisa kamu lihat, ada beberapa perubahan desain yang nampak. Pertama, layar Zenfone Max Pro M2 memakai poni alias notch. Kedua, bagian belakang sekarang mengkilat (glossy). Ketiga, lampu kilat menjadi satu bagian dengan kamera.

Desain ini memberi kesan trendy dan kekinian. Di samping itu, desain ini memberi kesan “mahal”. Memang, tampilan glossy membuatnya “mengundang” sidik jari. Tapi bekas tangan itu mudah dibersihkan. Lagipula, kemungkinan besar kamu akan memasang casing. Untuk urusan notch, nanti akan saya bahas lebih jauh.

colokan zenfone max pro m2
Colokan dan speaker di bagian bawah

Selebihnya, letak tombol dan colokan masih sama seperti pendahulunya. Colokan audio 3,5 mm dan micro USB bisa kamu temukan di bagian bawah, di samping speaker. Oya, sensor sidik jari juga masih sama, ada di bagian belakang handphone. Secara pribadi, saya sebenarnya lebih suka sensor di depan, tapi demi bezel-less screen yah bisa dimaklumi.

Begitu pun dengan slot dua kartu SIM nano dan kartu microSD. Selain letaknya masih sama, tata letaknya pun sama. Yang saya suka dengan laci SIM dari ASUS adalah kartu bisa diletakkan dengan mudah tanpa bergeser saat dimasukkan.

slot sim zenfone max pro m2
Slot kartu SIM dan microSD

Jadi penampilannya memang sebuah peningkatan. Tapi bagaimana saat dipegang? Nah, ini cukup mengejutkan. Walau bodinya glossy, Zenfone Max Pro M2 enak digenggam dan tidak licin. Max Pro M1 justru lebih licin dwaktu dipegang.

Kemudian handphone ini juga lebih ringan dari pendahulunya. Yah, hanya 5 gram. Tapi cukup terasa di tangan. Konstruksinya pun lebih mantap. Tidak ada keluhan seperti pendahulunya.

Layar

Layar ASUS ZenFone Max Pro M2 adalah layar IPS dengan Corning Gorilla Glass 6. Kehadiran notch membuat proporsi layar ini sedikit lebih tinggi dari pendahulunya, yaitu 6,3 inci FHD+ 2280 x 1080. ASUS memberikan fasilitas 94% NTSC color gamut dan 450 nits brightness dengan 1500:1 rasio kontras.

Sejauh yang saya gunakan, layar handphone enak dilihat. Kontras cahaya dan warna tampil dengan baik. Kamu bisa melihat isi layar dengan baik di dalam ruangan dan cukup baik di luar ruangan, di bawah matahari. Dulu saya memuji M1 karena tampilan layarnya mirip Moto Z2 Play yang memakai AMOLED. Kesan yang sama hadir dari seri M2 ini.

Bagaimana dengan poninya? Yah, secara pribadi saya masih menganggap desain ala Samsung Galaxy S8/S9 lebih pas. Tapi toh secara estetika visual, secara umum saya tidak terganggu. Kalaupun kamu tidak suka, lama-lama akan terbiasa.

Walau begitu, ada hal yang sedikit mengganggu. Ikon koneksi (Wi-Fi dan seluler) sekarang ada di sebelah kiri. Bukan di sebelah kanan dekat baterai. Repotnya, kalau ada banyak notifikasi masuk dari aplikasi lain, notifikasi ini tidak akan terlihat (hanya ada ikon β‹―). Sisi baiknya, layar jadi terlihat lebih bersih (terutama kalau kamu jarang membersihkan notifikasi).

Audio

Sejauh yang saya pakai, mikrofon dan speaker bekerja baik untuk berkomunikasi. Suara jelas dan jernih. Untuk multimedia (lagu dan film), suara yang keluar dari speaker kencang dan cukup surround (suaranya cukup “bulat”).

Memang suara bass (low range) kurang mantap walau tetap terdengar. Suara treble (high range) cukup nyaring walau tidak sampai terdengar pedas. Distorsi suara mulai terdengar ketika kamu menyetel lagu dengan cukup nyaring (di atas 50%). Menurut saya dari sisi suara ada peningkatan dari M1.

Dengan menggunakan earphone suaranya jauh lebih baik. Saya mendengarkan dengan earphone bawaan dari Moto G5s Plus, karena Max Pro M2 tidak memasukkan earphone di paket penjualan. Anyway, suara dari yang keluar dari earphone lebih seimbang dari speaker. Paling tidak untuk bass dan treble. Lalu banyak detil suara yang lebih terdengar.

Sekali lagi, karena hadir dengan Android murni, tidak ada tambahan fitur dari sisi perangkat lunak. Tapi secara keseluruhan, untuk ukuran handphone, suara ASUS ZenFone Max Pro M2 sangat memadai.

Kamera

Perubahan

Kamera ganda di bagian belakang ASUS ZenFone Max Pro M2 mendapat perubahan dibanding Max Pro M1. Ada peningkatan di sisi bukaan. Namun di sisi lain ada sedikit penurunan di ukuran sensor kamera.

Kamera pertama menggunakan sensor Sony IMX486 12 MP (f/1.7, LED Flash). ASUS menyebutkan kalau untuk cahaya rendah (low light), kamera ini lebih sensitif 1.9 kali dibanding Max Pro M1. Lalu jarak titik fokusnya setara dengan 27mm kalau di lensa kamera biasa (35mm). Sedangkan kamera kedua, memiliki kualitas 5 MP, luas pandang 84ΒΊ, dan depth sensing.

Kamera depan memiliki kualitas 13 MP, dengan bukaan f/2.0, titik fokus setara dengan 26mm di lensa kamera biasa (35mm), dan dilengkapi dengan LED flash. Kamera ini juga mendukung fitur face unlock.

aplikasi kamera zenfone max pro m2
Tampilan aplikasi kamera

Begitupun untuk aplikasi kamera. Juga ada peningkatan dan kekurangan fitur. Pertama, desain tampilan (UI/UX) sekarang lebih keren. Kedua, walau mode pemotretan lebih sedikit, sebagai gantinya ada mode Pro di sini. Artinya, kita bisa mengatur secara kamera secara manual (fokus, kecepatan, ISO, EV, dan WB). Ketiga, mode potret tidak ada untuk kamera depan. Walau saya jarang mengambil foto selfie, saya pikir hal ini agak mengecewakan.

UPDATE: ASUS memberi informasi kalau ada portrait mode di kamera depan. Namun nampaknya butuh update firmware. Kami masih menunggu info lebih lanjut.

Bagaimana dengan hasil fotonya?

Hasil Foto

Secara umum, walau menggunakan setelan auto, hasil foto cukup memuaskan. Kamera ASUS ZenFone Max Pro M2 cukup agresif dalam menangkap cahaya (mungkin karena bukaan lebih besar). Hal ini menyebabkan bagian yang paling terang sering terlihat flat. Tidak tertangkap rentang gradasinya alias over-exposed. Lalu kadang, bisa terlihat tipis (bagian gelap kurang gelap), kurang kontras.

Karakteristik yang sama juga bisa muncul di foto low-light. Secara umum bisa menangkap gambar dengan baik. Dalam kondisi tertentu (misalnya ada sumber cahaya kuat), pencahayaan akan terdongkrak, lalu noise bisa terlihat. Di sisi lain, ketika pencahayaan pas, foto tampak bagus dan bagaikan magic.

Untuk portrait mode, secara umum tidak jauh berbeda dengan M1. Tapi sensitifitas cahaya juga agak agresif di sini. Sama seperti foto lain, dalam kondisi tertentu bisa over exposed.

Sedangkan kamera depan, yah cukup standar untuk kualitas masa kini. Dalam arti bisa mengambil gambar dengan terang. Namun tidak adanya portrait mode membuat kamera depan jadi cukup biasa.

Berdasar pengalaman saya, kualitas foto ini juga tergantung pada mesin pengolah gambar yang ada di aplikasi kamera. Menggunakan aplikasi Google Camera di Max Pro M1 (fork, aslinya cuma untuk Pixel), bisa membuat kualitas foto lebih baik. Terutama untuk rentang cahaya dan warna. Kalau algoritma pengolah gambar bisa ditingkatkan, saya kok yakin hasil foto akan jauh lebih keren.

foto HDR outdoor Zenfone Max Pro M2
Foto luar ruang (HDR)
foto auto indoor zenfone max pro m2
Foto dalam ruang (auto)
hasil foto malam outdoor zenfone max pro m2
Foto di luar ruang malam hari (auto)
hasil foto low light indoor max pro m2
Foto low-light dalam ruangan (auto ) [catatan: lampu bioskop masih menyala]
portrait mode zenfone max pro m2
Foto efek bokeh (portrait mode)
selfie zenfone max pro m2
Swafoto

Untuk video, handphone ini sudah mendukung rekaman dengan kualitas 4K UHD di kamera belakang. Yang cukup menarik, fitur EIS (electronic image stabilization) tersedia. Sebelumnya, di M1, fitur EIS tersembunyi di developer mode (kalau tidak tahu ya tidak tersedia).

Secara umum hasil video cukup baik. Namun, ketika tidak ada obyek utama (yang berukuran besar) dan kamu menggerakkan kamera, fungsi auto-focus bisa sedikit tidak stabil. Bisa membuat gambar berpindah antara fokus dan tidak fokus dengan cepat.

Sistem Operasi

Seperti pendahulunya, ASUS ZenFone Max Pro M2 menggunakan sistem operasi stock Android alias Android murni. Bukan ZenUI seperti kebanyakan ZenFone. Yah, ada sedikit improvisasi dari ASUS (misalnya aplikasi kamera).

Keuntungannya, kamu bisa menggunakannya dengan lebih lugas, tanpa banyak aplikasi atau fitur tambahan (akui saja, ada yang berguna ada yang tidak). Secara keseluruhan, sebagai yang sudah terbiasa dengan stock Android, saya sih suka.

Sayangnya, handphone ini masih menggunakan Android 8.1 Oreo. Walau begitu, ASUS menjanjikan update Android 9 Pie pada bulan Februari 2019.

Oya, untuk kamu penyuka game, terutama battle royale, ASUS ZenFone Max Pro M2 hadir dengan game Garena Free Fire. Termasuk wallpaper yang menghias home screen (pada foto di atas sudah saya ganti).

Performa

ASUS ZenFone Max Pro M2 dipersenjatai dengan prosesor Qualcomm Snapdragon 660 octa-core (dilengkapi dengan Qualcomm AI Engine). Lalu GPU-nya adalah Qualcomm Adreno 512. Pilihan RAM tersedia mulai dari 3GB, 4Gb, dan 6GB. Sekali lagi, yang saya pakai ini versi 4GB/64GB.

Ya, sekarang pun sudah bukan jaman penyimpanan dengan kapasitas kecil. ASUS ZenFone Max Pro M2 tersedia dalam pilihan 32GB dan 64GB. Di M1, saya menggunakan yang 32GB dan itu sudah sangat memadai. Apalagi dengan kapasitas 64GB. Belum lagi dukungan microSD sampai 2TB.

Tentunya melihat spesifikasi itu, kita bisa berharap kemampuan yang memadai. Yah, sejauh ini memang memuaskan. Membuka banyak aplikasi tidak masalah, berpindah antar aplikasi tidak masalah. Saya termasuk jarang membersihkan aplikasi yang terbuka, tidak pernah pakai aplikasi pembersih RAM, dan tidak pernah melakukan clear chat di WhatsApp. Saya juga sering membuat hotspot dari handphone untuk laptop.

Tapi buat saya, perbedaan terasa pada saat bermain game (saya punya Asphalt 9, Battle Bay, Brawl Stars). Gerakan terasa lebih lincah daripada waktu main di M1.

penggunaan baterai zenfone max pro m2
Penggunaan baterai

Salah satu keunggulan seri Max Pro M adalah baterainya yang berkapasitas besar. Begitupun di ZenFone Max Pro M2. Kapasitas baterai yang sebesar 5000 mAh akan membuatmu lebih tenang berkegiatan tiap hari. Fast charging-nya juga mampu mengisi daya dengan cepat. Saya cukup terkejut dengan ini.

Sejauh yang saya pakai β€” termasuk browsing, chatting, dan main game (online) dengan brightness layar 60% β€” handphone ini mampu bertahan sehari penuh. Sebagai contoh, handphone masih tersisa 28% setelah dipakai selama 21 jam, termasuk main game online selama Β±4 jam. Tapi memang tergantung game yang dimainkan, dan saya menggunakan koneksi Wi-Fi. Tentunya kalau sinyal susah bisa lebih boros.

Harga

Bagaimana dengan harganya? Hm, ASUS sedikit meningkatkan harganya. Berikut harga ASUS ZenFone Max Pro M2 dalam tiga varian berbeda.

  • Versi 3GB/32GB β€” Rp 2.799.000,-
  • Versi 4GB/64GB β€” Rp 3.199.000,-
  • Versi 6GB/64GB β€” Rp 3.699.000,-

Kesimpulan

Menurut saya, ASUS ZenFone Max Pro M2 merupakan upgrade yang layak dari generasi sebelumnya. Lebih solid dari sisi desain dan materi, namun tetap menjaga tradisi kapasitas baterai besar dan efisiensi stock Android. Harganya, walau naik sedikit, masih layak dan bisa bersaing dengan handphone di kelas sejenis.

Dulu ASUS sudah terkenal dengan perangkat komputer dan laptop dengan posisi sama. Harga terjangkau tapi kemampuan memadai. Dengan Max Pro M1, ASUS mulai menancapkan citra itu di handphone. Saya senang ASUS meneruskannya di Max Pro M2.

Sebagai perbandingan, Motorola yang pernah sukses dengan Moto G5s Plus, gagal meneruskan tradisi itu. Terutama karena merilis seri yang terlalu banyak, sehingga keunggulan tiap perangkat menjadi bias. Kalau ASUS bisa mempertahankan resep suksesnya β€” yang juga kita lihat di divisi game dengan ROG Phone β€” ia bisa jadi kuda hitam di kelas menengah. Musuh terbesarnya, tentu saja, adalah Xiaomi. Persaingan ini akan jadi sangat menarik.

Kembali ke ASUS ZenFone Max Pro M2, kualitas dan fitur yang ditawarkannya cukup sebanding dengan harga yang ditawarkan. Kalau kamu mencari handphone di harga 3 jutaan, perangkat satu ini layak kamu pertimbangkan.

4.1
Ringkasan
ASUS ZenFone Max Pro M2 merupakan peningkatan yang layak dipuji. Spesifikasi dan desain lebih baik, namun tetap menjaga tradisi baterai berkapasitas besar dan harga yang terjangkau.
Pros
Gorilla Glass 6
Kapasitas baterai besar
Cons
Belum ada Portrait Mode di kamera selfie (saat artikel ditulis)
Harga seidkit lebih mahal
More Stories
4 Game Android Memasak Makanan Korea